SULAWESI TENGAH — Jakarta — Kepastian investasi Rusal di sektor pengolahan bauksit Indonesia semakin menguat. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut proses perizinan pabrik alumina milik perusahaan Rusia itu sudah mendekati tahap akhir. Rusal tidak masuk sendirian; mereka berkolaborasi dengan pengusaha lokal.
"Urusan perizinannya sudah hampir di tahap final, kami memang melakukan kolaborasi dan mereka bekerja sama dengan pengusaha dalam negeri," kata Bahlil saat ditemui di kantornya, Jumat (12/9).
Lokasi pabrik berada di area Kalimantan. Meski begitu, Bahlil belum bisa membeberkan nilai investasi yang akan digelontorkan. Alasannya, studi kelayakan (feasibility study/FS) belum rampung.
"Nanti tunggu studi kelayakannya (FS) diselesaikan dahulu," ujarnya singkat.
Sinyal dari Prabowo di Forum Vladivostok
Rencana kehadiran Rusal pertama kali mencuat dari pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam ajang Eastern Economic Forum (EEF) di Vladivostok, Rusia, awal bulan ini. Prabowo menyebut Rusal bakal masuk ke Indonesia dalam skala besar untuk mengembangkan kilang bersama sejumlah kelompok usaha nasional.
"Rusal akan masuk ke Indonesia dalam skala besar untuk mengembangkan kilang bersama kelompok-kelompok Indonesia," ucap Prabowo, dikutip dari Antara.
Kepala negara juga menegaskan Indonesia masih membuka pintu lebar bagi perluasan kerja sama dengan Rusia di berbagai sektor. "Jadi, kami masih menantikan semakin banyak kerja sama bersama antara Rusia dan Indonesia," pungkasnya.
Bukan Kedatangan Pertama
Nama Rusal sebenarnya sudah lama terdengar di industri aluminium Tanah Air. Rencana investasi serupa pernah bergulir sekitar 2014, ketika perusahaan aluminium terbesar dunia itu mulai menjajaki calon mitra lokal untuk mendirikan pabrik pengolahan bauksit menjadi alumina.
Kala itu, Rusal meminta tenggat tiga bulan untuk mengkaji potensi sumber bauksit dari daftar calon mitra. Menteri Perindustrian yang menjabat saat itu, MS Hidayat, mengungkapkan bahwa tenggat tersebut dipakai Rusal untuk memastikan angka investasi.
"Setelah tiga bulan baru Rusal memastikan angka investasinya, dalam (pengolahan) alumina. Setelah mereka 'secure' dengan sumber-sumber bauksit itu," ujar Hidayat, dikutip dari Antara.
Rusal bahkan sempat menjalin nota kesepahaman dengan salah satu perusahaan Indonesia. Namun, kesepakatan itu tidak berlanjut ke tahap spesifik. Hidayat menyebut pihak Rusal menyampaikan permintaan maaf karena tersandung masalah global.
Dampak ke Industri Hilirisasi
Kehadiran pabrik alumina Rusal berpotensi memperkuat rantai hilirisasi mineral Indonesia, khususnya bauksit yang selama ini banyak diekspor dalam bentuk mentah. Pemerintah sejak beberapa tahun terakhir mendorong pengolahan di dalam negeri agar nilai tambah tetap tersimpan di Indonesia.
Bagi Kalimantan, masuknya pabrik ini bisa membuka lapangan kerja baru dan menyerap tenaga kerja lokal di sekitar kawasan industri. Namun, besaran serapan dan nilai investasinya baru akan terlihat setelah studi kelayakan rampung.
Di sisi lain, kejelasan mitra lokal dan kepastian pasokan bauksit menjadi faktor penentu kelancaran proyek. Pengalaman 2014 menunjukkan, kerja sama Rusal dengan pengusaha nasional sempat kandas sebelum tahap konstruksi.
Jika terealisasi, pabrik ini akan mempertegas posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam rantai pasok alumina global, sekaligus memperluas peta investasi Rusia di sektor energi dan mineral Tanah Air.