PALU — Masih ada sekitar 80 hingga 83 desa, dusun, dan pemukiman terpencil di Sulawesi Tengah yang masuk kriteria belum berlistrik sama sekali atau hanya mendapat pasokan listrik non-PLN dengan durasi sangat terbatas. Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah terbesar Pemprov Sulteng dalam mengejar target elektrifikasi 100 persen pada 2028.
Gubernur Sulawesi Tengah Anwar mengungkapkan, Kementerian ESDM bersama PLN telah menyepakati pembangunan jaringan listrik untuk 113 titik di provinsi tersebut yang belum terhubung aliran listrik. Kepastian ini diperoleh setelah dirinya bertemu langsung dengan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia belum lama ini.
"Semoga tidak ada lagi desa di Sulteng yang tidak masuk jaringan PLN," kata Anwar saat membuka Rapat Koordinasi Pengadaan dan Pemasangan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS) 2026 di Palu, Senin.
Tiga Wilayah Kantong Terpencil yang Belum Teraliri Listrik
Kantong-kantong daerah tanpa listrik tersebar di tiga kategori wilayah. Pertama, wilayah kepulauan di Kabupaten Tojo Una-Una, khususnya Kepulauan Togean dan sekitarnya. Kedua, kabupaten kepulauan seperti Banggai Laut dan Banggai Kepulauan, terutama desa-desa pulau terluar di Kecamatan Bokan Kepulauan, Bangkurung, dan Labobo.
Ketiga, wilayah pegunungan dan pedalaman yang terisolasi. Di Kabupaten Sigi, titik kritis berada di Kecamatan Pipikoro, Lindu, dan Kulawi. Sementara di Kabupaten Morowali Utara dan Poso, desa-desa di pedalaman hutan dan pegunungan sekitar Mamosalato serta dataran tinggi Poso/Bada menjadi prioritas.
Panel Surya Jadi Alternatif untuk Wilayah Sulit Dijangkau
Untuk daerah yang mustahil dijangkau jaringan kabel PLN, pemerintah akan memanfaatkan pembangkit listrik tenaga surya. Karena itu, pemerintah daerah diminta menyiapkan lahan untuk pembangunan panel surya.
"Saya sudah bicara di forum pusat dan kami siap menanggung tanahnya," tegas Anwar.
751 Unit PJUTS Dipasang di Seluruh Kabupaten dan Kota
Di sisi lain, Pemprov Sulteng juga mendorong penerangan wilayah melalui pemasangan Penerangan Jalan Umum Tenaga Surya (PJUTS). Tahun ini, Dinas ESDM Sulteng memasang 751 unit PJUTS di seluruh kabupaten dan kota dengan kapasitas bervariasi antara 100 hingga 300 watt peak (WP).
Menurut Anwar, program penerangan ini tidak hanya soal akses listrik, tetapi juga berkaitan erat dengan keamanan lingkungan. Ia meyakini semakin banyak wilayah yang terang, tingkat kriminalitas bisa ditekan.
"Kalau mau kriminalitas turun maka terangi wilayah kita," ujarnya menegaskan.
Efisiensi Anggaran Tidak Menghentikan Program Prioritas
Anwar memastikan efisiensi anggaran tidak akan menghentikan program-program prioritas pemerintah daerah. Seluruh program BERANI tetap berjalan, dan sinergi antara pemerintah kecamatan serta desa menjadi kunci untuk mengejar target 2028.
Hingga pertengahan 2026, rasio elektrifikasi gabungan (PLN, Non-PLN, dan LTSHE) di Sulawesi Tengah diperkirakan sudah berada di kisaran 98 persen. Adapun rasio desa berlistrik PLN telah melampaui 97 persen.