SULAWESI TENGAH — Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations BYD Motor Indonesia, menegaskan bahwa perakitan lokal tidak mengubah posisi harga produknya di pasar. Pernyataan ini disampaikan usai peresmian fasilitas produksi BYD di Subang, Jawa Barat, pada Kamis (3/9).
"Jadi ada insentif dengan kompensasi investasi, sehingga membuat struktur fiskalnya itu sama, impor dan produksi sini. Artinya berarti tidak ada perubahan," ucap Luther.
Skema Insentif yang Membuat Harga Impor dan Lokal Sama
Kunci dari situasi ini adalah partisipasi BYD dalam program insentif impor mobil listrik CBU yang digagas pemerintah. Melalui program ini, BYD mendapatkan keringanan berupa bea masuk 0 persen dari tarif normal 50 persen, serta PPnBM 0 persen dari tarif normal 15 persen.
Keringanan fiskal ini berlaku hingga Desember 2025. Sebagai kompensasi, BYD berkewajiban memproduksi mobil listrik secara lokal dengan jumlah yang setara dengan volume impor. Kewajiban produksi tersebut mulai berlaku pada 1 Januari 2026 hingga 31 Desember 2027.
Volume Impor 92 Ribu Unit dan Target Produksi 150 Ribu Unit
Selama periode insentif berjalan, BYD tercatat telah mengimpor sekitar 92 ribu unit mobil listrik ke Indonesia. Angka ini menjadi dasar kewajiban produksi yang harus dipenuhi perusahaan di pabrik barunya.
Luther menjelaskan bahwa komponen utama pembentuk harga mobil listrik seharusnya berasal dari volume produksi dan penjualan. Jika volume produksi rendah, biaya produksi per unit justru meningkat dan berujung pada harga jual yang lebih mahal.
"Kalau berbasis produksi tapi kita enggak dapat volumenya, juga akan malah menciptakan harga yang jauh lebih mahal," ujar dia. "Nah, makanya sekarang kita konsentrasi sekali untuk mengoptimalkan nih produksi yang kita miliki, apalagi ini kapasitas bisa sampai 150.000 unit (per tahun)," katanya lagi.
Model yang Diproduksi di Subang dan Penghentian Impor
Pabrik BYD di Subang saat ini telah memproduksi dua model, yaitu SUV listrik Atto 1 dan MPV hybrid M6 DM. Pada tahun ini, lini produksi juga disiapkan untuk merakit M6 EV serta MPV premium Denza D9.
Setelah operasional pabrik berjalan penuh, BYD memastikan akan menghentikan aktivitas impor untuk semua model. Unit-unit hasil impor yang masih tersedia di dealer akan dibiarkan terserap konsumen hingga habis tanpa ada penambahan stok baru.