Pencarian

Film Autopsy: Dead Body Can Talk Angkat Kisah Dokter Forensik Polri, Tayang 3 September

Kamis, 03 September 2026 • 21:06:31 WIB
Film Autopsy: Dead Body Can Talk Angkat Kisah Dokter Forensik Polri, Tayang 3 September
Pemeran dan kru film "Autopsy: Dead Body Can Talk" menghadiri sesi konferensi pers sebelum penayangan perdana di bioskop.

SULAWESI TENGAH — Autopsy: Dead Body Can Talk hadir membawa kisah nyata yang jarang dieksplorasi industri film Indonesia: dunia forensik kepolisian. Film ini bukan sekadar drama prosedural, melainkan potret dedikasi seorang perempuan di balik proses mengungkap kebenaran dari kasus-kasus kematian tidak wajar.

Premis: Ketika Sains Bertemu Intuisi

Film ini mengikuti dr. Sumy Hastry (Masayu Anastasia), dokter spesialis forensik yang mendedikasikan hidupnya pada investigasi kematian misterius melalui bukti ilmiah. Namun, saat menangani kasus mutilasi terhadap perempuan tanpa identitas, Hastry mulai mengalami firasat dan menemukan petunjuk yang sulit dijelaskan logika forensik.

Ia didampingi asistennya, Yatna (Riyuka Bunga), dan Mojo (Ge Pamungkas), seorang pembuat film dokumenter. Di sisi lain, penyidik kepolisian Rendra (Teuku Rifnu Wikana) meragukan metode Hastry yang dinilai terlalu mengandalkan intuisi dibanding bukti fisik konkret.

Sang dokter forensik juga dihadapkan pada kasus kematian anak bernama Dara dan proses ekshumasi dalam kasus pembunuhan ibu dan anak. Ujian demi ujian datang, menguji integritas profesionalnya sekaligus kehidupan keluarganya. Samuel Rizal dan Indra Frimawan turut melengkapi deretan pemain.

Sosok Dr. Sumy Hastry Purwanti di Dunia Nyata

Di luar layar, Sumy Hastry Purwanti adalah perwira tinggi Polri sekaligus ahli forensik perempuan terkemuka. Ia mencatat sejarah sebagai polwan pertama di Asia yang menyandang gelar doktor forensik, dengan pengalaman lebih dari 25 tahun di bidang kedokteran kepolisian.

Sepanjang kariernya, dr. Hastry terlibat dalam berbagai kasus besar nasional dan internasional. Penanganannya mencakup identifikasi pelaku terorisme seperti Noordin M. Top dan Dulmatin, hingga kasus pembunuhan ibu dan anak di Subang yang sempat menjadi teka-teki panjang bagi publik.

Beda dari Horor Konvensional

Sutradara Ozan Ruz menegaskan film ini tidak mengusung formula horor supranatural yang lazim. Autopsy: Dead Body Can Talk lebih berfokus pada ketegangan psikologis dan proses investigasi ilmiah yang detail.

Demi akurasi, tim produksi melibatkan konsultan forensik profesional. Mereka tidak hanya melatih para pemeran dalam prosedur medis, tetapi juga mendampingi tim tata rias prostetik untuk menampilkan detail kondisi jasad dan luka secara medis dan realistis.

Dengan pendekatan yang mengedepankan sains dan nurani dalam menegakkan keadilan, Autopsy: Dead Body Can Talk menawarkan perspektif baru bagi sinema Indonesia yang jarang mengangkat dunia kedokteran forensik secara serius. Tayang mulai 3 September di seluruh bioskop Indonesia.

Follow sultengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks