SULAWESI TENGAH — Insiden penyelamatan diri Presiden AS Donald Trump dari pesawat kepresidenan Air Force One menjadi bahan ejekan terbaru John Oliver di program HBO-nya, Last Week Tonight. Oliver menyoroti bagaimana Trump harus bersembunyi di dalam truk katering untuk meninggalkan KTT NATO di Turki bulan lalu, sebuah skenario yang ia sebut lebih mirip adegan sinetron ketimbang operasi keamanan presiden.
Kronologi Kaburnya Trump dari Air Force One
Menurut laporan yang diulas Oliver, Trump sengaja menukar pesawatnya dengan jet militer yang lebih kecil untuk penerbangan pulang. Intelijen AS saat itu mendeteksi adanya potensi upaya pembunuhan dari Iran terhadap pesawat kepresidenan yang merupakan hadiah dari Qatar tersebut.
Untuk melaksanakan rencana itu, Trump dilaporkan keluar dari pesawat dan masuk ke sebuah truk katering yang kemudian membawanya menuju jet pengganti. "Fantastis. Satu-satunya masalah yang saya lihat di sana adalah: Lain kali dia perlu kabur, dia tidak akan bisa memakai trik truk katering lagi karena sekarang semua orang sudah tahu," ledek Oliver dalam monolognya.
Kritik Tajam untuk Nasib Rombongan yang Ditinggalkan
Oliver tidak berhenti di situ. Ia menyoroti ironi dari aksi penyelamatan diri tersebut, terutama nasib para penumpang lain yang masih berada di dalam Air Force One. Sejumlah jurnalis dan staf Gedung Putih, termasuk Menteri Luar Negeri Marco Rubio dan Menteri Keuangan Scott Bessent, ditinggalkan begitu saja di pesawat yang menjadi target potensial serangan.
"Tidak enak sekali! Ada banyak orang tak berdosa di pesawat itu—dan Marco Rubio," sindir Oliver, menyisipkan lelucon khasnya di tengah kritik serius. Pernyataan ini menggarisbawahi pertanyaan besar tentang prosedur keselamatan dan komunikasi dalam situasi darurat yang melibatkan pemimpin negara.
Pengunduran Diri Juru Bicara Gedung Putih
Kebetulan atau tidak, kabar mengejutkan datang dari juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, yang mengumumkan pengunduran dirinya tak lama setelah insiden pertukaran pesawat tersebut. Meski tidak ada pernyataan resmi yang mengaitkan kedua peristiwa ini, waktu pengumuman tersebut memicu spekulasi di kalangan pengamat politik dan media AS.
Insiden ini menjadi babak baru dalam serangkaian pemberitaan yang memalukan bagi pemerintahan Trump, terutama terkait penanganan keamanan dan transparansi informasi kepada publik. Oliver, yang kerap mengkritik kebijakan pemerintahan Trump, memanfaatkan momen ini untuk menyoroti bagaimana keputusan darurat justru menimbulkan kekacauan baru di lingkaran dalam kepresidenan.