Pencarian

Imunisasi Anak di Bangka Belitung Masih 20 Persen, Waspada Risiko Campak

Rabu, 02 September 2026 • 22:36:31 WIB
Imunisasi Anak di Bangka Belitung Masih 20 Persen, Waspada Risiko Campak
Kepala Dinkes Babel dr. Ria Agustine menyampaikan cakupan imunisasi dasar lengkap di Bangka Belitung baru mencapai 20 persen dalam Orientasi Gizi Kader PKK, Selasa (1/9/2026).

SULAWESI TENGAH — Data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah besar dalam program imunisasi anak. Angka stunting di provinsi ini tercatat 20,03 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional. Sementara itu, cakupan imunisasi dasar lengkap baru mencapai angka 20 persen.

Kepala Dinkes Babel, dr. Ria Agustine, menyampaikan hal tersebut dalam acara Orientasi Gizi Kader PKK pada Selasa, 1 September 2026. Ia mengaitkan langsung rendahnya cakupan imunisasi dengan merebaknya penyakit yang seharusnya bisa dicegah.

"Akibat cakupan imunisasi rendah, Juli lalu tercatat 40 kasus campak di Babel," jelasnya di hadapan para kader.

Hoaks Imunisasi Sebabkan Lumpuh Masih Marak

Salah satu penghambat utama program imunisasi adalah informasi keliru yang beredar di masyarakat. Ketua TP-PKK Babel, Noni, menegaskan bahwa kabar mengenai vaksin yang menyebabkan kelumpuhan adalah tidak benar.

"Imunisasi bukan bikin lumpuh. Itu hoaks. Saya sendiri imunisasi full dan sehat," tegas Noni, menyontohkan pengalaman pribadinya sebagai bukti keamanan vaksin.

Garda Terdepan: Peran Kader PKK

Menghadapi situasi ini, TP-PKK Babel tidak tinggal diam. Noni memberikan instruksi tegas kepada seluruh kader untuk bergerak aktif menjadi garda terdepan dalam edukasi gizi dan imunisasi di lingkungan masing-masing.

Ia menekankan bahwa tugas edukasi ini tidak harus menunggu acara formal. Interaksi sederhana sehari-hari justru menjadi media yang paling efektif.

"Edukasi nggak harus nunggu acara. Tanya tetangga saat arisan. Itu juga bagian kerja kader," ujarnya, mendorong pendekatan komunikasi yang lebih cair dan personal di tengah masyarakat.

Perubahan Gaya Hidup: Soal Fast Food dan Gawai

Selain persoalan vaksin, Noni juga menyoroti perubahan gaya hidup anak-anak yang kini rentan terhadap masalah kesehatan. Konsumsi makanan cepat saji yang berlebihan dan kecanduan gawai menjadi perhatian khusus yang perlu diimbangi dengan edukasi orang tua di rumah.

Kebiasaan ini, jika dibiarkan, dapat memengaruhi status gizi anak dan berkontribusi pada risiko stunting dalam jangka panjang. Penting bagi orang tua untuk mulai membatasi asupan gula, garam, dan lemak pada makanan anak, serta mengatur waktu bermain gawai.

Yang Bisa Ibu Lakukan di Rumah

Kunci utama mencegah stunting dan penyakit menular ada di tangan orang tua. Pastikan Si Kecil mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal di posyandu atau puskesmas terdekat.

Jangan ragu untuk bertanya langsung kepada tenaga kesehatan profesional. Petugas medis adalah sumber informasi paling tepat untuk meluruskan berbagai mitos seputar vaksin, bukan dari pesan berantai di media sosial.

Di sisi lain, pola asuh juga menentukan tumbuh kembang anak. Variasikan menu makanan keluarga dengan sumber protein hewani dan nabati, serta sayur dan buah. Ajak anak bermain aktif di luar ruangan sebagai pengganti waktu menatap layar gawai.

Follow sultengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: rri.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks