SULAWESI TENGAH — Ketidakpastian geopolitik kembali menjadi katalis utama pergerakan harga minyak. Investor dibuat bingung oleh pernyataan yang bertolak belakang antara Washington dan Teheran mengenai kondisi terkini di Selat Hormuz, jalur yang mengangkut sekitar seperlima konsumsi minyak dunia. Kondisi ini memaksa pelaku pasar untuk terus menahan posisi waspada, alih-alih mengambil risiko di tengah kabar yang simpang siur.
Mengutip data Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent naik 26 sen ke posisi US$91,28 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) menguat lebih signifikan, naik 37 sen menjadi US$85,31 per barel. Kedua kontrak acuan ini sebenarnya sudah ditutup di level tertinggi sejak 24 Juli pada sesi perdagangan sehari sebelumnya.
Klaim Kontradiktif AS dan Iran Memicu Ketidakpastian
Pemicu utama gejolak harga kali ini bukanlah serangan fisik, melainkan perang pernyataan. Presiden AS Donald Trump pada Selasa (18/8) menegaskan bahwa tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran dan menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka untuk pelayaran internasional.
Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh klaim dari pihak Iran yang bersikukuh bahwa jalur perairan strategis tersebut masih ditutup untuk kapal. Perbedaan fakta di lapangan ini menjadi sinyal bahaya bagi para trader yang mencoba menghitung seberapa besar risiko nyata gangguan suplai minyak global.
Gencatan Senjata Berakhir, Sikap Iran Kian Ofensif
Situasi semakin memanas setelah masa gencatan senjata sementara resmi berakhir pada Senin (17/8). Seorang pejabat senior Iran menyatakan kepada Reuters bahwa negaranya akan mengambil sikap lebih ofensif menyusul kebuntuan diplomatik dengan AS. Meski hingga Selasa belum ada laporan serangan baru di kawasan tersebut, perubahan postur ini cukup untuk membuat harga tetap tertopang.
Yang patut disoroti, penguatan harga ini terjadi tanpa adanya konfirmasi gangguan fisik pada lalu lintas kapal tanker. Artinya, premi risiko geopolitik yang saat ini terbentuk di harga minyak murni didorong oleh sentimen dan ketidakjelasan informasi, bukan oleh berkurangnya pasokan riil di pasar.
Yang Akan Menentukan Arah Harga Selanjutnya
Para investor kini memusatkan perhatian pada dua indikator utama. Pertama, perkembangan diplomasi antara AS dan Iran, terutama apakah ada kanal komunikasi yang bisa meredakan ketegangan. Kedua, data aktual pergerakan kapal di Selat Hormuz untuk memverifikasi klaim mana yang benar mengenai status jalur tersebut.
Selama ketidakjelasan ini berlanjut, volatilitas harga diprediksi akan tetap tinggi. Pasar minyak berada dalam mode "wait and see", di mana setiap pernyataan politik baru dari kedua negara bisa langsung memicu pergerakan harga yang signifikan dalam waktu singkat.
Investasi mengandung risiko.