SULAWESI TENGAH — Serangan yang dikonfirmasi kantor berita Saba ini menandai fase baru konflik Yaman yang telah berlangsung lebih dari satu dekade. Houthi tidak lagi sekadar mengganggu jalur pelayaran, tetapi secara sistematis melumpuhkan jantung ekonomi Riyadh. Kilang di Jazan, yang terletak di pesisir Laut Merah bagian selatan, menjadi sasaran karena nilai strategisnya yang tinggi bagi perusahaan raksasa Aramco.
Kronologi Serangan: Dari Pelanggaran Wilayah Udara hingga Ledakan di Fasilitas Vital
Serangan ini merupakan respons langsung terhadap penerbangan jet tempur koalisi Saudi di atas langit Saada dan Hajjah, Yaman. Militer Houthi menilai tindakan tersebut sebagai pelanggaran wilayah udara yang tidak bisa dibiarkan. Armada drone tempur buatan Iran kemudian diterjunkan untuk menghantam fasilitas penyimpanan dan pengolahan minyak di Jazan.
“Houthi menargetkan kilang Aramco di Jazan dengan sejumlah drone… sebagai tanggapan atas pelanggaran wilayah udara,” demikian rilis resmi kantor berita Saba yang mengutip sumber militer senior. Pernyataan ini menegaskan bahwa serangan tersebut telah direncanakan sebagai bentuk pembalasan yang terukur, bukan aksi spontan di lapangan.
Dampak Ganda: Blokade Laut Merah dan Selat Hormuz Mengancam Pasokan Minyak Dunia
Yang membuat situasi ini jauh lebih rumit adalah timing serangan. Houthi telah mengumumkan blokade maritim total terhadap kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah sejak Juli lalu, setelah secara sepihak membatalkan gencatan senjata 2022. Kini, gempuran ke Jazan berlangsung bersamaan dengan blokade ketat Iran di Selat Hormuz.
Kombinasi dua blokade di jalur pelayaran tersibuk dunia ini menciptakan tekanan ganda pada rantai pasok energi global. Kapal tanker yang sebelumnya bisa mengalihkan rute melalui Laut Merah kini menghadapi risiko serangan langsung, sementara alternatif melalui Selat Hormuz juga tertutup. Pasar energi global dipastikan merespons dengan volatilitas harga yang signifikan dalam beberapa pekan ke depan.
Pemicu Konflik: Pendaratan Pesawat Militer Iran di Sanaa yang Memicu Gempuran Balasan
Rantai eskalasi ini bermula dari pendaratan pesawat militer Iran di Sanaa bulan lalu. Tindakan Teheran yang secara terbuka menunjukkan dukungan logistik kepada Houthi ini langsung memicu respons militer dari koalisi Saudi. Riyadh menganggap kehadiran militer asing di Yaman sebagai ancaman langsung terhadap keamanan nasionalnya.
Dari sisi strategi militer, pilihan Houthi menyerang Jazan cukup cerdik. Kilang ini bukan hanya aset ekonomi, tetapi juga simbol kekuatan Aramco di kawasan selatan. Dengan melumpuhkan fasilitas ini, Houthi mengirim pesan bahwa mereka mampu mencapai target bernilai tinggi meskipun menghadapi superioritas udara koalisi Saudi.
Yang Perlu Diperhatikan: Risiko Meluasnya Konflik ke Konfrontasi Langsung Washington-Riyadh-Teharan
Krisis ini kini berada di ambang perang terbuka yang melibatkan aktor global. Washington yang memiliki pangkalan militer di kawasan Teluk, Riyadh sebagai target utama, dan Teheran sebagai dalang di balik Houthi—ketiganya berada dalam posisi yang saling menjepit. Setiap langkah balasan berpotensi memicu reaksi berantai yang sulit dikendalikan.
Bagi Indonesia, dampak langsungnya akan terasa melalui harga energi domestik. Setiap gejolak harga minyak global selalu berujung pada penyesuaian harga BBM dan tarif listrik di dalam negeri. Rupiah yang saat ini berada di level Rp17.840 per dolar AS akan semakin tertekan jika harga minyak melonjak tajam.
Belum ada pernyataan resmi dari Aramco mengenai estimasi kerugian atau durasi gangguan produksi di Jazan. Namun, sejarah serangan serupa di fasilitas Abqaiq pada 2019 menunjukkan bahwa pemulihan total bisa memakan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Sampai ada kejelasan mengenai skala kerusakan, pasar energi global akan bergerak dalam mode ketidakpastian tinggi.