SULAWESI TENGAH — Jaissle, pengganti Eddie Howe, tampil kalem dalam sesi perkenalan pertamanya di St James' Park, Senin lalu. Setelan jas hitam dan kemeja abu-abu membungkus sosoknya. Namun di balik penampilan itu, ia mengakui ada kegelisahan tentang bagaimana wasit akan menilai temperamennya.
"Saya tidak akan mengubah gaya saya karena itu kepribadian saya. Di pinggir lapangan, saya emosional, tapi saya harus lebih menghormati batas technical area," ujar Jaissle dalam konferensi pers perdananya, dikutip dari laporan media Inggris.
Alasan Jaissle Khawatir dengan Wasit Premier League
Ketakutan itu bukan tanpa dasar. Selama menangani Al-Ahli di Arab Saudi, Jaissle menikmati ruang gerak jauh lebih luas di pinggir lapangan. Kini, aturan ketat Premier League menjadi tantangan baru.
"Saya sedikit takut. Saya harap pada awalnya para wasit bisa sedikit menutup mata. Saya perlu belajar itu. Saya punya pinggir lapangan yang panjang di Arab Saudi, jadi GPS saya akan sangat tinggi jika saya memakainya!" kelakarnya.
Mantan bek Hoffenheim itu dikenal punya dua kepribadian berbeda. Di luar lapangan, ia terkesan kalem dan penuh perhitungan. Namun saat pertandingan berlangsung, sisi emosionalnya kerap muncul. Chinedu Obasi, mantan rekan setimnya di Hoffenheim, membenarkan hal tersebut.
"Matthias selalu lapar akan kemenangan. Dia punya gaya kepemimpinan yang vokal dan penuh gairah terhadap permainan," ujar Obasi.
Membangun Kembali Benteng St James' Park
Selain beradaptasi dengan aturan wasit, Jaissle punya pekerjaan rumah besar: mengembalikan reputasi St James' Park sebagai benteng yang sulit ditaklukkan. Musim lalu, Newcastle kehilangan status tersebut setelah menelan tujuh kekalahan kandang di Premier League dan finis di peringkat ke-12.
"Kami hanya saling menatap dengan senyum lebar, merinding. Ini sangat spesial," kata Jaissle mengenang tur pertamanya keliling stadion. "Orang-orang yang memandu tur memberi tahu saya bagaimana rasanya saat penonton hadir. Jika kami bermain dengan cara yang mereka inginkan—sepak bola intens, agresif, dan menyerang—akan ada sinergi hebat antara fans dan tim."
Gaya bermain Jaissle itu mendapat sambutan positif dari para pendukung. Adam Stoker, salah satu pemegang tiket musiman Newcastle, menilai pendekatan tersebut mirip dengan era kejayaan The Magpies di musim 2022-2023.
"Eddie sempat terlihat lelah dan energinya hilang, itu berimbas pada performa tim. Sekarang kami sudah melihat sedikit ide Jaissle dan itu sangat cocok dengan Newcastle. Sepak bola cepat dan menyerang selalu didukung penuh oleh penonton di sini," tutur Stoker.
Transisi Besar dan Target Ambisius
Jaissle sadar tantangannya berat. Kepergian Anthony Gordon, Sandro Tonali, dan Bruno Guimaraes di bursa transfer musim panas ini meninggalkan kekosongan besar di skuad. Namun, ia menolak menjadikan itu sebagai alasan untuk tidak ambisius.
"Kami ambisius. Itu yang terpenting. Itu sebabnya saya memutuskan datang ke sini. Tapi ini tidak akan terjadi dalam semalam, terutama dengan fase transisi sebesar ini," tegasnya.
Newcastle akan memulai musim dengan menjamu Liverpool di St James' Park pada 23 Agustus mendatang. Laga itu menjadi ujian pertama bagi Jaissle, baik dari sisi taktik maupun pengendalian emosi di pinggir lapangan.