SULAWESI TENGAH — Data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang mengecewakan menjadi katalis utama pergerakan pasar hari ini. Rilis Non-Farm Payrolls (NFP) pada Jumat lalu memicu penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan The Fed, yang pada gilirannya menekan indeks dolar di pasar global.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan tekanan terhadap dolar AS terbuka lebar setelah data pekerjaan tersebut dirilis. Kondisi ini secara langsung menguntungkan mata uang emerging market, termasuk rupiah.
"Rupiah diperkirakan menguat terhadap dolar AS yang tertekan setelah data pekerjaan AS NFP pada hari Jumat yang jauh lebih lemah dari harapan," kata Lukman, Senin (10/8).
Selat Hormuz Jadi Faktor Penahan Penguatan Rupiah
Meski momentum penguatan terlihat jelas, laju rupiah diprediksi tidak akan terlalu agresif. Lukman mengingatkan bahwa pasar masih mencermati perkembangan situasi geopolitik, khususnya terkait ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz. Isu ini berpotensi memicu volatilitas harga komoditas dan mengubah arah aliran modal asing secara tiba-tiba.
"Namun ketidakpastian pembukaan kembali Selat Hormuz bisa menahan penguatan," imbuhnya.
Sentimen risiko global yang bercampur ini membuat pelaku pasar cenderung wait and see sebelum mengambil posisi besar. Investor menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai situasi di kawasan Timur Tengah sebelum kembali agresif masuk ke aset berisiko.
Kisaran Perdagangan Hari Ini: Rp17.800 - Rp17.950
Dengan mempertimbangkan sentimen eksternal yang saling bertolak belakang, pergerakan rupiah hari ini diperkirakan akan berada di rentang yang cukup lebar. Level support dan resistance menjadi acuan penting bagi trader jangka pendek untuk menentukan titik entry.
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan menguat, meskipun ruangnya terbatas. Pasar akan mencermati data ekonomi lanjutan dari AS serta perkembangan terbaru situasi geopolitik untuk mencari arah yang lebih jelas.
"Rupiah akan berada di range Rp17.800 hingga Rp17.950 per dolar AS hari ini," pungkasnya.
Dari sisi domestik, tidak ada rilis data ekonomi makro yang dijadwalkan pada hari ini, sehingga pergerakan nilai tukar sepenuhnya akan ditentukan oleh sentimen eksternal. Investor disarankan mencermati perkembangan nilai tukar terhadap mata uang regional lainnya, mengingat tekanan dolar AS yang meluas berpotensi memberikan sentimen positif serupa bagi mata uang Asia.
Investasi mengandung risiko.