SULAWESI TENGAH — PT Kereta Api Indonesia menarik tujuh trainset KRL buatan PT Industri Kereta Api setelah menemukan fraktur pada komponen rangka bawah yang masuk kategori no-go item. Temuan itu muncul saat pengecekan rutin, dan seluruh trainset diketahui memakai komponen dari batch produksi yang sama. Dua trainset sudah selesai diperiksa, lima sisanya ditargetkan rampung hingga 9 Oktober.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin menyatakan penarikan dilakukan karena komponen tersebut berpotensi mengalami fatigue dan mengganggu keselamatan operasional. Temuan itu terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Rabu (23/9).
Sebelum menarik seluruh unit, KAI lebih dulu menelusuri asal komponen bersama INKA. Hasilnya, tujuh trainset terkonfirmasi memakai komponen dari tempat dan batch produksi yang identik.
Fraktur di Rangka Bawah Picu Kategori No-Go Item
Dalam sarana kereta, KAI membagi komponen ke tiga kategori: no-go item yang berkaitan langsung dengan keselamatan, major item yang bisa mengganggu operasional, dan minor item yang hanya memengaruhi kenyamanan. Komponen bermasalah pada tujuh trainset masuk kategori pertama.
"No-go item itu ada komponen di rangka bawahnya. Di rangka bawahnya memang ditemukan fraktur. Jadi kami melihat ini produksi mana? Komponen ini produksi mana? Dan ini produksi lokal, dalam negeri," ujar Bobby.
Pemeriksaan ulang dilakukan memakai Non-Destructive Test (NDT), metode pengujian tanpa merusak komponen. Prosesnya tidak singkat karena KAI harus membongkar komponen, melepas lapisan coating, menguji dengan beban maksimum, lalu memasang dan melapisi ulang.
Dua Trainset Kembali Beroperasi, Lima Menyusul Bertahap
Dari tujuh trainset yang ditarik, dua sudah dinyatakan bebas no-go item. Satu unit telah dilepas kembali ke jalur empat hari sebelum RDP, satu lagi dijadwalkan menyusul pada hari yang sama.
"Kemudian nanti sisanya lima trainset itu akan bertahap sampai dengan tanggal 9 Oktober," kata Bobby.
Penarikan ini memperparah tekanan pada armada KRL Jabodetabek. Dari 16 unit yang diproduksi INKA berdasarkan rencana pengadaan 2023, baru tujuh yang beroperasi. Sembilan unit lain belum diterima KAI, dengan keterlambatan lebih dari satu tahun.
INKA semula memproyeksikan kapasitas produksi delapan unit per tahun. Realisasinya hanya sekitar dua hingga tiga unit per tahun. Sebagai pembanding, 11 unit KRL impor dari CRRC China sudah beroperasi sejak tahun lalu.
Kebutuhan Armada Melonjak, Kekurangan 22 Trainset
KRL Jabodetabek kini melayani rata-rata 1,1 juta penumpang per hari melalui 1.065 perjalanan. Pertumbuhan penumpang mencapai 11,3 persen pada semester I 2026 dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Untuk 2026, KAI menghitung kebutuhan 105 trainset dengan asumsi konservatif satu juta penumpang harian. Rinciannya:
- 89 trainset untuk operasional
- Cadangan 3 persen
- Kebutuhan perawatan 16 persen
Sarana yang tersedia di awal tahun hanya 102 trainset, dan 13 di antaranya direncanakan dikonservasi karena usia serta kondisi. Rata-rata usia KRL KAI kini melampaui 41 tahun.
Dengan memperhitungkan 13 trainset yang harus dikonservasi dan sembilan unit INKA yang belum diterima, KAI memperkirakan kekurangan 22 trainset sepanjang tahun ini.
Opsi Refurbishment Jadi Solusi Sementara
Untuk menutup kekurangan tersebut, KAI mengusulkan penggunaan KRL bekas yang telah diremajakan atau refurbishment sebagai langkah sementara. Opsi ini dinilai lebih cepat dibanding menunggu kapasitas produksi dalam negeri naik.
Hingga 2040, KAI memproyeksikan kebutuhan sekitar 200 trainset untuk melayani 2,5-3 juta penumpang per hari. Angka itu jauh di atas kapasitas produksi INKA saat ini, sehingga ketergantungan pada pengadaan impor maupun unit refurbishment kemungkinan berlanjut dalam jangka menengah.