SULAWESI TENGAH — Bukan tanpa alasan Danantara menunjuk Jasa Marga sebagai pengajar. Perusahaan pelat merah ini memiliki Jasamarga Tollroad Command Center (JMTC) di Jatiasih, Bekasi, yang tak sekadar memonitor lalu lintas. Pusat kendali itu juga mengolah data dari sistem terintegrasi untuk menata arus kendaraan saat terjadi kepadatan.
“Ketika terjadi kepadatan, diperlukan penataan lalu lintas yang didukung informasi secara waktu nyata,” kata Direktur Utama Jasa Marga Rivan A Purwantono dalam keterangan resmi, Sabtu (pekan lalu).
Empat BUMN Jadi Murid, 22 Lainnya Ikut Online
Program bertajuk "Command Center Management: Turning Information into Decisions, Decisions into Actions, and Actions into Public Trust" itu digelar secara hybrid. Empat BUMN yang menjadi mentee (penerima bimbingan) langsung hadir di lokasi: PLN, ASDP, Pelindo, dan KCI. Sementara itu, perwakilan dari 22 BUMN sektor pelayanan publik lainnya mengikuti secara daring.
Jasa Marga memfokuskan pendampingan pada dua area: Integrated Service Monitoring dan Incident & Crisis Response Management. Dua bidang ini dinilai krusial karena keterlambatan respons beberapa menit saja di jalan tol bisa memicu risiko besar.
Dari Data ke Keputusan, dari Keputusan ke Kepercayaan Publik
Managing Director Human Capital Danantara, Agus Dwi Handaya, menekankan bahwa pemanfaatan teknologi melalui dashboard yang andal membantu memperjelas prioritas dan mempercepat pengambilan keputusan. “Keterlambatan beberapa menit dapat menimbulkan risiko, sementara keputusan yang tepat dapat segera memulihkan kelancaran, keamanan, serta kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Senior Director Chief Marketing Officer Danantara, Dendi T Danianto, menambahkan bahwa Jasa Marga dipilih karena karakteristik layanan publiknya unik: melayani 3,5 juta kendaraan setiap hari melalui layanan Center 133. “Orientasi kepada pelanggan juga perlu dimulai dari internal dengan menempatkan karyawan sebagai bagian penting dari ekosistem layanan,” kata Dendi.
Membangun Budaya 'Melayani Sepenuh Hati'
Rivan menegaskan bahwa program ini menjadi sarana internalisasi budaya Melayani Sepenuh Hati (MSH) secara berkelanjutan. Menurutnya, kepercayaan 3,5 juta pengguna jalan tol setiap hari menjadi fondasi untuk terus menciptakan pengalaman perjalanan yang lebih baik.
“Jasa Marga terus mengembangkan smart toll road ecosystem dengan mendorong paradigma dari infrastructure menjadi infraculture yang memberikan nilai dan pengalaman bagi masyarakat,” pungkas Rivan.