BUOL — Ribuan anak di Kabupaten Buol harus menghadapi ketakutan setelah gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,4 mengguncang wilayah mereka pada Minggu lalu. Tak hanya infrastruktur yang rusak, trauma mendalam juga mengancam masa depan mereka.
Satuan Brimob (Satbrimob) Polda Sulawesi Tengah pun turun tangan. Mereka menggelar kegiatan trauma healing di sejumlah titik pengungsian dan permukiman terdampak, Minggu (12/7).
Pendekatan Humanis untuk Pulihkan Psikologis Anak
Komandan Kompi (Danki) 4 Batalyon A Pelopor Satbrimob Polda Sulteng AKP Suharyono mengatakan pemulihan psikologis anak-anak merupakan bagian penting yang tidak boleh diabaikan dalam penanganan pascabencana.
“Anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan mengalami trauma setelah bencana. Melalui kegiatan trauma healing ini kami berharap mereka dapat kembali ceria, berani beraktivitas, dan perlahan melupakan rasa takut akibat gempa yang terjadi,” kata Suharyono di Buol, Minggu.
Ia menjelaskan pendekatan yang digunakan bersifat humanis. Personel Brimob tidak hanya membantu secara fisik, tetapi juga memberikan dukungan moral dan semangat kepada masyarakat yang tengah berduka.
Bukan Sekadar Bermain, Ada Tujuan Pemulihan
Kegiatan trauma healing dirancang secara berkelanjutan. Tujuannya, mengurangi dampak psikologis yang dialami para penyintas, khususnya anak-anak, agar mereka mampu kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan rasa aman.
Suharyono menegaskan penanganan bencana tidak boleh hanya fokus pada pemulihan infrastruktur. Pemulihan psikososial masyarakat, terutama anak-anak, harus mendapat perhatian yang sama besarnya.
Personel SAR Juga Turun ke Lokasi
Selain trauma healing, personel SAR Kompi 4 Batalyon A Pelopor terus terlibat dalam proses evakuasi dan pembersihan material bangunan yang runtuh akibat gempa. Puluhan rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan.
Hingga berita ini diturunkan, personel gabungan masih bersiaga di lapangan untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan dan membantu warga yang membutuhkan pertolongan medis maupun logistik.