SULAWESI TENGAH — Final yang dinanti berubah menjadi panggung dominasi Inter sejak peluit pertama dibunyikan. Lazio yang bertindak sebagai tuan rumah justru tampil tertekan dan melakukan kesalahan fatal yang langsung dihukum oleh tim asuhan Cristian Chivu.
Pertandingan baru berjalan 35 menit ketika bek kiri Lazio, Nuno Tavares, melakukan blunder kritis. Ia kehilangan bola di area pertahanannya sendiri setelah ditekan Denzel Dumfries. Pemain Belanda itu langsung mengirim umpan matang yang diselesaikan dengan tenang oleh Lautaro Martinez untuk gol kedua Inter.
Sebelumnya, Inter sudah unggul lebih dulu melalui gol bunuh diri bek Lazio, Adam Marusic, memanfaatkan sepak pojok Federico Dimarco pada menit ke-25. Dua pukulan telak ini membuat Lazio tak mampu bangkit.
Pelatih Lazio, Maurizio Sarri yang menjalani skorsing, melakukan perubahan di babak kedua dengan memasukkan Nicolo Rovella menggantikan Patric. Gelandang Italia itu langsung mengubah ritme permainan Biancocelesti. Dalam laporan yang diterima, Rovella menjadi pemain terbaik Lazio dengan nilai 6,5 setelah mampu menghidupkan umpan-umpan ke area lawan.
Namun, kualitas lini depan yang minim menjadi batu sandungan. Lazio nyaris tidak menciptakan peluang emas sepanjang laga. Sementara di kubu lawan, tiga pemain Inter—Dumfries, Dimarco, dan Lautaro Martinez—mendapat nilai tertinggi 7 atas kontribusi langsung mereka dalam dua gol kemenangan.
Bagi Inter, kemenangan ini melengkapi koleksi trofi musim ini setelah sebelumnya merebut gelar Serie A. Pelatih Cristian Chivu menuai pujian berkat racikan strateginya yang hampir sempurna di musim perdananya menangani tim utama. Ia diganjar nilai 7 oleh pengamat yang meliput langsung laga final tersebut.
Di sisi lain, kekalahan ini memupus harapan Lazio untuk mengamankan tiket ke kompetisi Eropa musim depan lewat jalur trofi. Sarri dianggap tidak bisa berbuat banyak dengan skuad yang ada, dan lini depannya dinilai tak memiliki kualitas serta kejutan yang biasa menjadi ciri khas tim asuhannya.