PALU — Kepala Bidang Perekonomian dan Sumber Daya Alam Bappeda Provinsi Sulawesi Tengah, Moh. Saleh, menyatakan pengembangan petani milenial membutuhkan pendekatan terintegrasi. Kebijakan pemerintah, menurutnya, harus selaras dengan kesiapan petani di tingkat usaha.
Kesiapan itu mencakup dukungan produksi, akses pasar, dan penguatan kelembagaan. Tujuannya menjamin keberlanjutan usaha secara bertahap, bukan sekadar menambah jumlah pelaku di lapangan.
Baru 123.014 Petani Milenial dari 457.492 Petani di Sulteng
Data Sensus Pertanian Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sekitar 123.014 petani milenial di Sulawesi Tengah. Jumlah itu setara 26,89 persen dari total 457.492 petani di seluruh wilayah provinsi.
Potensi tersebut belum sepenuhnya tergarap. Sektor pertanian di daerah ini masih menghadapi sejumlah hambatan struktural yang membuat regenerasi berjalan lambat.
Hambatan yang dimaksud meliputi keterbatasan akses pasar dan permodalan bagi petani muda. Pemanfaatan alat pertanian modern serta teknologi digital juga dinilai belum optimal.
Alsintan Modern Harus Sejalan dengan Kesiapan SDM
Kepala Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian Sulawesi Tengah, Ruslan Boy, menyoroti pentingnya integrasi penerapan alat dan mesin pertanian (alsintan) dengan kesiapan sumber daya manusia. Kelembagaan yang kuat dan model bisnis yang matang disebutnya sama pentingnya.
Melalui pendekatan itu, program regenerasi pertanian di Sulawesi Tengah diarahkan tidak berhenti pada penambahan jumlah petani. Petani muda disiapkan menguasai keterampilan teknis produksi sekaligus manajemen usaha, pemasaran, dan pengelolaan keuangan.
Target akhirnya, aktivitas pertanian bertransformasi menjadi bisnis produktif bernilai tambah tinggi. Program Petani Milenial periode 2025–2029 menjadi kerangka kerja yang dipakai Pemprov untuk membangun ekosistem pertanian yang mandiri, maju, dan berkelanjutan.
Apa yang Harus Terjadi agar Target 1.000 Petani per Tahun Tercapai
Dengan sasaran 1.000 orang per tahun, keberhasilan program akan bergantung pada seberapa cepat akses permodalan dan pasar terbuka bagi petani muda. Tanpa itu, penambahan jumlah petani berisiko tidak diikuti peningkatan pendapatan.
Pemprov Sulawesi Tengah belum merinci skema insentif maupun sebaran wilayah penerima program. Rincian tersebut akan menentukan apakah target 5.000 petani milenial hingga 2029 realistis di lapangan.