PALU — Wali Kota Palu Hadianto Rasyid menyampaikan kebijakan perpanjangan sekolah daring didampingi Kepala Pelaksana BPBD Kota Palu Presly Tampubolon. Menurut laporan instrumen BMKG yang diterima BPBD, parameter udara sempat membaik dua hingga tiga hari sebelum akhirnya memburuk lagi secara signifikan.
Pemantauan menunjukkan konsentrasi partikulat PM1 sebesar 157 µg/m³, PM2.5 sebesar 150 µg/m³, dan PM10 mencapai 159 µg/m³. Angka itu terekam saat cuaca di ibu kota Sulawesi Tengah sedang cerah berawan.
Angka PM2.5 di Ambang Tidak Sehat
Kategori tidak sehat ditetapkan berdasarkan konsentrasi PM2.5 yang bertahan di level 150 µg/m³. Partikulat halus berukuran 2,5 mikrometer itu paling berisiko masuk ke saluran pernapasan dan aliran darah.
"Artinya, bahwa udara Kota Palu saat ini masih dalam kondisi yang kurang baik atau tidak sehat," ujar Hadianto dalam siaran pers di Palu.
Pemkot Palu menetapkan perpanjangan belajar dari rumah sambil mengevaluasi perkembangan situasi hingga akhir pekan, tepatnya Sabtu atau Minggu (24/10/2026). Kepastian pembukaan kembali kegiatan belajar mengajar tatap muka untuk Senin (26/10/2026) akan diumumkan setelah melihat grafik perubahan kualitas udara dari BMKG.
Warga Diminta Batasi Aktivitas Anak di Luar Ruang
Hadianto meminta orang tua memantau pergerakan dan kesehatan anak-anak selama berada di rumah. Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi sampai ancaman kabut polusi mereda.
Pemkot juga menginstruksikan warga dengan riwayat gangguan pernapasan, jantung, atau asma untuk disiplin memakai masker standar saat beraktivitas di ruang terbuka. Seluruh kepala sekolah dan satuan pendidikan di Kota Palu diminta mematuhi instruksi dalam surat edaran resmi dinas pendidikan.
"Kami berharap pembelajaran tatap muka bisa secepatnya dilaksanakan. Oleh karena itu, kita berdoa semoga kondisi udara semakin baik," harap wali kota.