Pencarian

Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Jangan Cuma Andalkan Mobil Listrik

Rabu, 21 Oktober 2026 • 14:18:01 WIB
Guru Besar UPER: Transisi Otomotif Indonesia Jangan Cuma Andalkan Mobil Listrik
Guru Besar Teknik Mesin Universitas Pertamina Prof. Iman Kartolaksono Reksowardojo menilai transisi otomotif Indonesia perlu pendekatan multi-pathway.

SULAWESI TENGAH — Guru Besar Teknik Mesin Universitas Pertamina, Prof. Iman Kartolaksono Reksowardojo, menilai transisi otomotif Indonesia tidak bisa hanya bergantung pada kendaraan listrik. Pendekatan multi-pathway yang memadukan listrik, biodiesel, dan bahan bakar nabati dinilai lebih relevan dengan kondisi tiap sektor transportasi. Penjualan kendaraan listrik nasional sendiri naik dari 99.111 unit pada 2024 menjadi 150.452 unit pada 2025.

Pandangan itu disampaikan Iman saat ditemui di Universitas Pertamina pada 15 Oktober 2026. Menurutnya, pilihan teknologi kendaraan harus disesuaikan dengan karakteristik penggunaan, bukan diseragamkan ke satu jalur saja.

Kendaraan Listrik Cocok untuk Perkotaan, Bukan Semua Sektor

Iman menilai kendaraan penumpang dan sepeda motor di kawasan perkotaan cocok memakai tenaga listrik. Alasannya, perjalanan relatif pendek dan akses pengisian daya lebih memungkinkan.

Kondisi berbeda berlaku untuk truk, bus, dan alat berat. Kendaraan yang menempuh perjalanan jauh atau beroperasi di wilayah dengan fasilitas pengisian daya terbatas dinilai lebih tepat memanfaatkan biodiesel.

Pilihan biodiesel didukung keberadaan mesin diesel dan jaringan distribusi bahan bakar yang sudah tersedia. Infrastruktur lama jadi modal yang tidak perlu dibangun dari nol.

Nikel Jangan Cuma Dijual sebagai Bahan Mentah

Pengembangan kendaraan listrik perlu diikuti penguatan pengolahan bahan baku dan penguasaan teknologi di dalam negeri. Iman menekankan potensi mineral seperti nikel sebaiknya tidak berhenti sebagai pasokan bahan mentah.

Pengolahan di dalam negeri membuka nilai tambah bagi industri nasional. Tanpa itu, Indonesia hanya jadi pemasok bahan baku bagi rantai pasok global.

Biodiesel B50 Butuh Kesiapan Mesin dan Standar Mutu

Indonesia mengarah pada pemanfaatan biodiesel B50, bahan bakar dengan komposisi 50 persen biodiesel berbasis crude palm oil dan 50 persen solar. Sebagai salah satu produsen minyak sawit terbesar dunia, Indonesia punya potensi bahan baku untuk mendukungnya.

Penerapan B50 tetap membutuhkan kesiapan teknologi kendaraan, termasuk pengujian dan penyesuaian mesin agar sesuai karakteristik bahan bakar. Standar mutu bahan bakar dan kesesuaiannya dengan kebutuhan mesin jadi syarat lain yang tidak bisa dilewatkan.

"Penerapan B50 memerlukan kerja sama antara produsen kendaraan, produsen bahan bakar, masyarakat, dan pemerintah," ujar Iman.

Jarak Pagar hingga Nyamplung Jadi Sumber Alternatif

Indonesia juga punya peluang mengembangkan bahan bakar nabati dari sumber selain kelapa sawit, seperti jarak pagar, nyamplung, dan kemiri sunan. Pengembangan sumber energi itu perlu disertai kajian menyeluruh.

Manfaatnya tidak cukup dilihat dari ketersediaan bahan baku. Iman menekankan pentingnya pendekatan Life Cycle Assessment untuk menilai dampak lingkungan tiap pilihan teknologi, mulai dari penyediaan bahan baku, produksi, hingga penggunaan energi.

"Setiap pilihan teknologi dan sumber energi harus mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan, bukan hanya ketersediaan bahan baku atau infrastrukturnya," jelas Iman.

Talenta Jadi Penentu di Balik Teknologi

Rektor Universitas Pertamina, Prof. Ichsan Setya Putra, menilai pengembangan energi berkelanjutan tidak cukup bertumpu pada ketersediaan sumber daya. Indonesia butuh talenta yang mampu mengembangkan teknologi dan memperkuat industri energi nasional.

Penguatan peminatan Renewable Energy pada Program Studi Teknik Mesin UPER diharapkan meningkatkan kapasitas mahasiswa memahami teknologi energi terbarukan sesuai kebutuhan Indonesia. Pendekatan multi-pathway menempatkan kendaraan listrik dan bahan bakar nabati sebagai pilihan yang saling melengkapi.

Tantangannya, memastikan setiap teknologi dikembangkan berdasarkan kebutuhan penggunaan, kesiapan industri, dan perhitungan dampak lingkungan secara menyeluruh.

Follow sultengmonitor.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: mawartanews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks