PALU — Tradisi Pedang Pora menjadi penutup rangkaian sertijab di lingkungan Polda Sulawesi Tengah. Irjen Pol Nasri bersama Ny. Lina Nasri berjalan melewati formasi perwira muda yang menghunuskan pedang sebagai simbol penghormatan atas pengabdiannya selama bertugas di institusi Polri.
Prosesi berlangsung khidmat di halaman Mapolda Sulteng. Sejumlah perwira tampak menahan haru saat pejabat lama beserta istri meninggalkan barisan kehormatan.
Siapa Saja yang Hadir dalam Prosesi Pelepasan
Brigjen Pol Dr. Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf, S.I.K., M.H., hadir bersama Irwasda dan para Pejabat Utama Polda Sulteng. Para Kapolres dan Kapolresta jajaran dari berbagai wilayah Sulawesi Tengah turut memberikan penghormatan kepada pejabat lama beserta istri.
Jajaran pengurus Bhayangkari Daerah Sulawesi Tengah juga hadir. Kehadiran mereka menjadi wujud apresiasi atas kontribusi Irjen Pol Nasri dan Ny. Lina Nasri dalam mendukung pelaksanaan tugas kepolisian serta pengembangan organisasi selama menjabat di Polda Sulteng.
Makna Tradisi Pedang Pora di Lingkungan Polri
Pedang Pora bukan sekadar seremoni. Tradisi ini menjadi simbol penghormatan, kebanggaan, serta ungkapan terima kasih atas dedikasi dan pengabdian yang telah diberikan selama bertugas di institusi Polri.
Dalam prosesi pelepasan, barisan perwira muda membentuk gerbang kehormatan dengan pedang terhunus. Pejabat yang dilepas melangkah melewati formasi tersebut sebagai penanda berakhirnya masa tugas di satuan wilayah.
Rizal Irawan Pimpin Langsung Usai Sertijab
Kapolda Sulawesi Tengah yang baru, Irjen Pol Rizal Irawan, S.I.K., M.H., memimpin langsung prosesi pelepasan. Upacara digelar usai seluruh rangkaian upacara serah terima jabatan pucuk pimpinan Polda Sulteng selesai.
Pergantian pucuk pimpinan Polda Sulteng menandai estafet kepemimpinan di jajaran kepolisian wilayah Sulawesi Tengah. Irjen Pol Nasri mengakhiri masa jabatannya, sementara Irjen Pol Rizal Irawan mulai menjalankan tugas sebagai Kapolda.