SULAWESI TENGAH — Kementerian Pariwisata resmi meluncurkan Camino de Flores, jalur wisata jalan kaki bernuansa ziarah yang membentang di daratan Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Rute ini menghubungkan situs religi, desa wisata, dan lanskap alam di Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende. Peluncuran berlangsung di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, sebagai pilot project wisata spiritual di kawasan timur Indonesia.
Selama ini kunjungan wisatawan ke Flores nyaris selalu terpusat di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Camino de Flores dirancang untuk memecah konsentrasi itu dengan mengalirkan pejalan kaki ke kabupaten-kabupaten lain di daratan Flores. Menteri Pariwisata Widiyanti menyebut pola perjalanan baru ini sebagai instrumen audit sekaligus ajang promosi.
Rute dan Kabupaten yang Dilalui
Jalur peziarahan ini melintasi tiga kabupaten di daratan Flores: Ngada, Nagekeo, dan Ende. Titik-titik yang dihubungkan mencakup situs religi, desa wisata, hingga lanskap alam. Rute juga menyambung dengan ritual pariwisata religi yang sudah lama tumbuh di Flores, seperti Semana Santa, Festival Golokoe, ziarah, dan berbagai prosesi budaya lainnya.
Kesiapan Keselamatan di Jalur
Kementerian Pariwisata melalui Kedeputian Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur bersama BPOLBF menyusun dokumen Risk Assessment dan Emergency Response Plan. Infrastruktur keselamatan yang disiagakan meliputi road marshal, pos kesehatan, water station mobile, serta mitigasi cuaca dan elevasi rute yang menantang.
"Kami memastikan kesiapan infrastruktur keselamatan dan keamanan, mulai dari penyiagaan road marshal, pos kesehatan, water station mobile, hingga mitigasi cuaca dan elevasi rute yang menantang," kata Menpar Widiyanti.
Tata Kelola Lintas Wilayah
Keberlanjutan rute ini bergantung pada tata kelola lintas wilayah yang solid. Peran masing-masing pihak diformalkan lewat mekanisme kerja sama atau MoU antara Kementerian Pariwisata, BPOLBF, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Ngada, Nagekeo, dan Ende, Keuskupan se-Flores, serta komunitas lokal.
Hasil evaluasi operasional pilot project akan menghasilkan peta rute final, standar kelayakan, dan profil risiko. Dokumen itu menjadi landasan pengembangan Camino de Flores sebagai paket wisata berkelanjutan yang bisa dipasarkan travel agent dan tour operator.
Dampak Ekonomi bagi Warga Flores
Konsep perjalanan lambat dan mendalam membuat wisatawan berpeluang tinggal lebih lama. Perputaran ekonomi di desa-desa yang dilalui pun ikut terdongkrak. Peluang usaha terbuka bagi pengelola homestay, pelaku UMKM, perajin tenun, dan pemandu wisata lokal.
Kain tenun ikat menyimpan identitas budaya dan nilai adat, sekaligus menjadi sumber penghidupan banyak keluarga, terutama perempuan penenun. Kuliner lokal menyimpan pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Ketiganya dipadukan dengan pengalaman spiritual dan interaksi langsung bersama warga.
Inspirasi dari Camino de Santiago
Inisiator Camino de Flores, Mari Elka Pangestu, menjelaskan rute ini terinspirasi dari Camino de Santiago de Compostela di Spanyol. Rute ziarah itu berlangsung sejak Abad ke-9, tepatnya 813 M, ketika makam Rasul St. Yakobus ditemukan di Galicia. Camino de Santiago termasuk Ziarah Agung Dunia dan diakui UNESCO serta Dewan Eropa.
Pada 2024-2025, jalur tersebut memecahkan rekor dengan hampir 500-530 ribu peziarah dari lebih dari 160 negara setiap tahunnya. Camino de Flores mengadaptasi spirit itu untuk Flores, NTT, sebagai walking pilgrim.
Kegiatan Sosial dan Penggalangan Dana
Perjalanan ini mengintegrasikan kegiatan sosial dan penggalangan kepedulian bagi masyarakat Flores. Dana yang terkumpul direncanakan mendukung renovasi rumah sakit, gereja, serta sarana budaya dan pariwisata, termasuk penyediaan fasilitas sanitasi dan akses air bersih.
"Perjalanan ini tidak sekadar menawarkan keindahan alam, tetapi mengintegrasikan spiritualitas, budaya, sejarah, dan keterlibatan masyarakat lokal dalam satu pengalaman yang bermakna," kata Menpar Widiyanti.
Bagi traveler yang menanti detail teknis seperti titik start, panjang rute, dan jadwal resmi keberangkatan, informasi terkini dapat dikonfirmasi melalui Kementerian Pariwisata atau dinas pariwisata setempat. Camino de Flores diposisikan sebagai magnet baru pariwisata berkualitas di kawasan timur Indonesia.