SULAWESI TENGAH — Politeknik Negeri Semarang mengembangkan bus shuttle listrik dengan sistem PEM fuel cell hidrogen untuk kebutuhan transportasi kampus, pariwisata, dan kawasan industri. Prototipe ini diklaim mampu menempuh 400 kilometer dengan pengisian daya 6 hingga 8 jam. Teknologi ini memadukan baterai LiFePO4 sebagai penggerak utama dengan fuel cell 1 kW sebagai pemasok kelistrikan tambahan.
Politeknik Negeri Semarang (Polines) merampungkan prototipe bus listrik berbasis hidrogen dalam kurun waktu sekitar dua bulan. Ketua Tim Inventor Teknologi Polines, Prof. Ir. Yusuf Dewantoro Herlambang, menjelaskan bahwa pengembangan ini berjalan lewat skema sinergi yang didanai hibah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
"Polines mendapat hibah dari Kementrian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, yaitu dalam skema sinergi untuk membangun sebuah bus listrik fuel cell hidrogen," ujar Yusuf dalam keterangannya di Semarang.
Perancangan bus ini melibatkan sejumlah mitra industri serta program diaspora. Kolaborasi tersebut bertujuan memperkuat rantai keahlian yang dibutuhkan, mulai dari sistem traksi hingga manajemen energi.
Motor PMSM 15 kW dan Baterai LiFePO4 24 kWh
Sistem penggerak utama bus ini mengandalkan motor Permanent Magnet Synchronous Motor (PMSM) berdaya 15 kW pada jalur traksi 96 V DC. Pasokan energinya berasal dari baterai lithium ferro phosphate (LiFePO4) berkapasitas 96 V 250 Ah dengan energi nominal sekitar 24 kWh.
Arsitektur kelistrikannya dibagi dalam dua jalur tegangan. Jalur 48 V menampung PEM fuel cell berdaya 1 kW, sementara konverter DC-DC 48 V ke 12 V berkapasitas 50 A menurunkan tegangan untuk instrumen kabin.
- Motor traksi: PMSM 15 kW, sistem 96 V DC
- Baterai utama: LiFePO4 96 V 250 Ah, energi nominal sekitar 24 kWh
- Fuel cell: PEM 1 kW pada jalur 48 V
- Konverter: DC-DC 48 V ke 12 V, 50 A
- Baterai instrumen: 12 V untuk lampu, klakson, wiper, ECU, dan perangkat tambahan
Efisiensi 60 Persen Tanpa Proses Pembakaran
Yusuf menuturkan, hidrogen dan oksigen bereaksi lewat proses kimia untuk menghasilkan listrik. Karena tidak ada pembakaran, efisiensi energinya diklaim lebih tinggi dibanding kendaraan berbahan bakar fosil konvensional.
"Hidrogen dan oksigen bereaksi melalui reaksi kimia kemudian menghasilkan energi listrik tanpa melalui proses pembakaran sehingga efisiensinya kurang lebih 60 persen daripada kendaraan konvensional berbasis bahan bakar fosil," katanya.
Daya tempuh prototipe ini diklaim mencapai 400 kilometer. Pengisian daya baterainya membutuhkan waktu 6 hingga 8 jam, bergantung pada kondisi sumber listrik yang tersedia.
Respons Mitra Diaspora: Sejalan dengan Tren Toyota Mirai dan Hyundai
Mitra diaspora dari Universiti Kebangsaan Malaysia, Prof. Ir. Dr. Edy Herianto Majlan, menilai langkah Polines sudah sejalan dengan peta jalan teknologi otomotif global. Ia menyebut Toyota lewat model Mirai dan Hyundai sebagai contoh pabrikan yang serius menggarap kendaraan hidrogen.
"Penelitian yang dibuat di Polines ini sangat sesuai dengan perkembangan di dunia. Ini menunjukkan arah penelitian yang dilakukan Polines mengikuti tren teknologi global," ujar Edy.
Ia menekankan satu catatan penting: kesiapan infrastruktur hidrogen. Produksi, penyimpanan, distribusi, hingga fasilitas pengisian bahan bakar menjadi prasyarat sebelum teknologi ini bisa berjalan di luar lingkungan kampus.
Menunggu Uji Performa dan Keselamatan Sebelum Komersialisasi
Bus ini menyasar tiga segmen awal: transportasi shuttle kampus, sektor pariwisata, dan kawasan industri. Polines memposisikannya sebagai sarana riset strategis untuk memperkuat kompetensi di bidang kendaraan listrik, sistem kendali, dan manajemen energi.
Tahap komersialisasi belum masuk pembahasan. Rangkaian uji performa dan keselamatan harus selesai lebih dulu sebelum bus listrik fuel cell hidrogen ini bisa diproduksi dalam jumlah lebih besar.