SULAWESI TENGAH — Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman menegaskan pasokan energi ke pasar global tidak akan terputus dalam kondisi apa pun, termasuk saat menghadapi serangan kelompok Houthi Yaman dan Iran. Jaminan itu disampaikan di tengah ketegangan kawasan yang meningkat sejak perang AS-Israel melawan Iran meletus akhir Februari. Komitmen Saudi menjadi penopang utama stabilitas harga minyak dunia yang selama ini bergantung pada ekspor dari Teluk.
Paragraf pembuka: Pernyataan tersebut disampaikan Pangeran Abdulaziz saat membuka Pertemuan Menteri Forum Energi Internasional ke-17 (IEF17) di Riyadh. Forum berlangsung ketika gangguan terhadap pasar energi kian nyata, mulai dari konflik militer hingga serangan langsung kelompok Houthi ke wilayah Arab Saudi dalam beberapa pekan terakhir. Pangeran Abdulaziz menyebut Kerajaan telah membuktikan kemampuan menjaga kelancaran pasokan, terus berinvestasi, dan siap menghadapi segala keadaan.
Tekad Saudi di Tengah Ancaman Serangan
Dalam pidatonya, Pangeran Abdulaziz memakai perumpamaan burung phoenix untuk menggambarkan ketahanan Arab Saudi menghadapi tekanan eksternal. Ia menegaskan tidak ada pihak yang mampu mematahkan tekad Kerajaan untuk memenuhi komitmen energinya.
"(Arab Saudi) seperti burung phoenix. Kami bangkit dari abu setiap saat, berulang kali, dan tidak ada yang dapat mematahkan tekad kami," ujarnya, seperti dikutip dari Anadolu.
Pernyataan itu muncul setelah Houthi Yaman berulang kali mengancam keselamatan pelancong dan menyebut bandara-bandara di Arab Saudi sebagai target serangan. Ancaman tersebut menambah daftar risiko yang harus dihadapi Saudi di sektor energi dan transportasi.
Investasi dan Komitmen yang Tak Berubah
Pangeran Abdulaziz menegaskan Arab Saudi tetap melanjutkan investasi di sektor energi meski tekanan keamanan meningkat. Menurutnya, kemampuan Kerajaan menjaga pasokan global sudah diakui banyak pihak.
"Semua orang sekarang mengakui bahwa Kerajaan mampu berdiri teguh dan menghadapi tantangan. Tidak seorang pun bisa melemahkan tekad atau menghalangi kami untuk mencapai kemajuan dan memenuhi komitmen, apa pun keadaannya," ujarnya.
Pesan tersebut penting bagi pasar minyak dunia. Arab Saudi merupakan salah satu eksportir minyak terbesar dan anggota terkemuka OPEC, sehingga kelancaran pasokan dari negara itu menjadi acuan harga energi global, termasuk bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak mentah dan bahan bakar.
Dampak ke Pasar Energi dan Negara Importir
Ketegangan di kawasan Teluk biasanya langsung memicu gejolak harga minyak. Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak dunia berdampak ke beban subsidi energi dan anggaran negara, terutama saat nilai tukar rupiah melemah. Jaminan Saudi untuk tidak memutus pasokan setidaknya meredam kekhawatiran pasar akan kelangkaan pasokan.
Forum IEF17 sendiri menjadi ajang bagi negara-negara produsen dan konsumen energi untuk membahas stabilitas pasokan. Kehadiran Arab Saudi dengan pesan ketahanan memberi sinyal bahwa infrastruktur energi di kawasan tetap beroperasi normal meski konflik meluas.
Penutup: Bagi pelaku pasar, pernyataan Pangeran Abdulaziz menjadi penanda bahwa Arab Saudi memilih menjaga posisinya sebagai pemasok energi yang bisa diandalkan, bukan menarik diri dari pasar. Sikap itu sekaligus menegaskan bahwa konflik di kawasan tidak serta-merta mengubah peran Saudi sebagai penopang utama pasokan minyak dunia.