PALU — Gerakan simbolis menggalang koin Rp1.000 akan mewarnai aksi sejumlah elemen masyarakat Sulawesi Tengah pada Selasa (8/9/2026). Aksi ini menyasar anggota DPR RI asal daerah pemilihan Sulteng yang dinilai belum maksimal memperjuangkan kepentingan fiskal daerah, khususnya terkait dana bagi hasil.
Makna di Balik Koin Rp1.000
Ketua Umum PP Himpunan Pemuda Alkhairaat (HPA) Ashar Yahya menyebut nominal tersebut sarat makna. Koin Rp1.000 yang dikumpulkan masyarakat menjadi sindiran atas kinerja wakil rakyat yang dianggap kurang optimal.
"Ini bentuk kritik terhadap wakil rakyat terkait persoalan dana bagi hasil," ujarnya.
Elemen Masyarakat yang Terlibat
Aksi ini melibatkan beragam kelompok, bukan hanya satu organisasi. Pengurus Pusat HPA, aliansi BEM mahasiswa se-Kota Palu, organisasi pergerakan mahasiswa, kelompok masyarakat sipil, praktisi jurnalis, hingga kelompok perempuan Talise ikut ambil bagian.
Warga Kabupaten Sigi juga disebut akan turun dalam aksi tersebut. Keterlibatan lintas elemen ini menunjukkan persoalan DBH dirasakan dampaknya secara luas, tidak terbatas di ibu kota provinsi.
Kenapa Baru Sekarang?
Persoalan dana bagi hasil memang kerap menjadi sorotan di daerah penghasil sumber daya alam. Sulteng termasuk wilayah yang memiliki potensi fiskal dari sektor pertambangan dan perkebunan, namun penerimaan daerah dari DBH kerap dinilai belum sebanding.
Kritik yang disuarakan melalui penggalangan koin ini menjadi cara warga menekan wakil rakyat agar lebih serius memperjuangkan hak fiskal daerah di tingkat pusat.
Aksi serupa sebelumnya pernah terjadi di sejumlah daerah penghasil sumber daya alam di Indonesia. Pola penggalangan dana dengan nominal kecil dipilih agar mudah diikuti masyarakat luas sekaligus menciptakan dampak psikologis bagi pihak yang dikritik.