SULAWESI TENGAH — Penutupan bandara dan pembatalan jadwal penerbangan ini merupakan langkah mitigasi yang dinilai tepat oleh para ahli. Pasalnya, abu vulkanik memiliki karakteristik fisik yang jauh berbeda dengan awan biasa dan menjadi ancaman serius bagi keselamatan penerbangan.
Mengapa Mesin Pesawat Rentan Terhadap Abu Vulkanik?
Anggota Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI), Daryono, menjelaskan abu vulkanik mengandung fragmentasi batuan mikroskopis, silika (SiO2), dan kristal mineral berujung tajam. Partikel-partikel keras ini bersifat sangat abrasif dan dapat mengikis permukaan kaca kokpit hingga buram, merusak sensor pitot tube pengukur kecepatan udara, serta mengikis bilah turbin mesin jet.
Bahaya paling krusial terletak pada dinamika termal mesin turbofan. Suhu ruang bakar mesin jet yang beroperasi normal mencapai 1.400 hingga 2.000 derajat Celsius, jauh melampaui titik leleh silika yang hanya sekitar 1.100 derajat Celsius.
Ketika partikel silika terhisap masuk, material tersebut meleleh secara mendadak lalu membeku kembali menjadi kerak kaca saat melewati bagian turbin yang lebih dingin. Penumpukan kerak ini dapat menyumbat nosel aliran udara, mengganggu aerodinamika, hingga menyebabkan mesin mati total (flameout).
Gangguan Navigasi dan Risiko Kesehatan Kabin
Daryono menambahkan, gesekan antarpartikel abu halus yang bergerak dengan kecepatan tinggi menimbulkan muatan listrik statis ekstrem. Fenomena ini memicu St. Elmo's Fire di kaca kokpit dan menyebabkan interferensi frekuensi radio komunikasi penerbangan.
"Selain kerusakan mekanis dan termal, abu vulkanik juga memicu gangguan sistemik pada navigasi dan kelistrikan pesawat," jelas Daryono dalam keterangan resminya, Minggu (6/9).
Komposisi asam yang melekat pada abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan korosi instan pada komponen elektronik sensitif. Yang lebih mengkhawatirkan, partikel ini dapat mencemari sistem pengondisian udara kabin, yang tidak hanya mengancam fungsi instrumen tetapi juga membahayakan sistem pernapasan kru dan penumpang.
Peringatan BMKG untuk Maskapai dan Pilot
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) turut mengingatkan bahwa material halus dari erupsi ini bisa terbawa angin dalam jarak sangat jauh. Dampaknya tidak hanya pada sektor transportasi udara, tetapi juga kualitas udara, kesehatan masyarakat, dan aktivitas lingkungan.
Dalam unggahan resmi di Instagram pada Minggu (6/9), BMKG menegaskan bahwa abu vulkanik mengandung serpihan kaca dan batuan tajam. "Jika terhisap masuk ke mesin pesawat yang sangat panas, abu akan meleleh dan menyumbat mesin hingga mati," tulis BMKG.
Maskapai dan pilot diimbau untuk selalu memantau informasi sebaran abu vulkanik sebelum lepas landas. Jarak pandang yang berkurang akibat partikel abu juga menjadi faktor krusial yang membatasi operasional penerbangan di wilayah terdampak erupsi.