Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, mengimbau warga Sulawesi Tengah untuk tidak panik menanggapi isu gempa megathrust yang beredar. Imbauan ini disampaikan menyusul kekhawatiran publik atas potensi gempa besar di wilayah yang berada di jalur rawan bencana tersebut. BMKG mencatat total kejadian gempa bumi di Kabupaten Sigi dan sekitarnya mencapai 3.596 kali sejak 2021 hingga 2026.
KABUPATEN SIGI — Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas I Palu buka suara soal kekhawatiran warga terhadap isu gempa megathrust di Sulawesi Tengah. Masyarakat diminta untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi simpang siur dan tetap meningkatkan kesiapsiagaan mandiri.
Pernyataan ini disampaikan langsung oleh Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Djati Cipto Kuncoro, di Sigi pada Selasa lalu.
Apa Sebenarnya Isu Megathrust yang Dimaksud?
Djati menjelaskan bahwa isu megathrust merujuk pada energi gempa bumi yang terkumpul dan tertahan di dalam bumi. Energi ini menjadi potensi terjadinya gempa besar di masa mendatang.
Namun, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak bisa memastikan atau meramalkan secara pasti kapan gempa bumi akan terjadi. Ketidakpastian ini justru menjadi alasan utama mengapa publik diimbau tidak berspekulasi berlebihan.
Bagaimana Peran Gempa Kecil dalam Mengurangi Potensi Megathrust?
Menurut Djati, rangkaian gempa-gempa berskala kecil yang kerap melanda Kota Palu dan sekitarnya justru memiliki peran penting. Secara teori, aktivitas seismik kecil ini membantu melepaskan energi yang tertahan secara bertahap.
"Secara teori, dengan adanya gempa-gempa kecil ini, energi itu sudah mulai dilepaskan pelan-pelan. Sehingga, rasa ketakutan kita terhadap megathrust itu diharapkan tidak begitu dahsyat," ucapnya.
Bagaimana Data Gempa di Wilayah Sigi dan Sekitarnya?
Berdasarkan data yang dihimpun BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu, aktivitas kegempaan di wilayah Kabupaten Sigi dan sekitarnya tercatat sangat intensif. Total kejadian gempa bumi dalam rentang tahun 2021 hingga 2026 mencapai 3.596 kali.
Angka tersebut menunjukkan bahwa kawasan ini memang berada di jalur rawan bencana gempa bumi, sehingga kewaspadaan warga tetap diperlukan.
Apa yang Harus Dilakukan Warga?
Djati menegaskan bahwa fenomena kebencanaan seperti megathrust wajib disikapi sebagai bentuk edukasi dan peningkatan kewaspadaan, bukan kepanikan.
"Harapannya seluruh masyarakat semakin siap dan tanggap, sehingga risiko korban jiwa maupun kerugian material saat bencana terjadi dapat diminimalkan," ujarnya.
Masyarakat diminta untuk terus memperbarui informasi dari sumber resmi serta berlatih skenario evakuasi mandiri, khususnya bagi warga yang tinggal di wilayah pesisir dan daerah rawan lainnya.