Kehadiran PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) di Kecamatan Bahodopi tidak hanya mengubah lanskap ekonomi, tetapi juga nasib para perempuan di sekitarnya. Lisnawati, seorang mantan tenaga honorer, kini meraup omzet Rp500 ribu per hari dari usaha oleh-oleh, sementara Busra berhasil beralih profesi dari guru honorer menjadi staf administrasi di perusahaan tersebut.
MOROWALI — Dua perempuan di Kecamatan Bahodopi, Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, membuktikan bahwa kawasan industri nikel bisa menjadi pintu perubahan hidup. Mereka adalah Lisnawati, pelaku UMKM, dan Busra, karyawan PT IMIP, yang sama-sama memulai dari titik nol dan kini menuai hasil perjuangan mereka.
Kisah Lisnawati dimulai dari keterbatasan. Sebagai tenaga honorer di Kantor Desa Labota, penghasilannya kerap habis sebelum akhir bulan. Tiga cicilan yang harus dibayar membuat setiap rupiah terasa sangat berharga. "Tuntutan ekonomi yang dorong saya berani mulai usaha," kenang perempuan 43 tahun itu.
Modal Awal Rp2 Juta dan Perjalanan 86 Kilometer
Pada 2019, Lisnawati memberanikan diri merintis usaha 'Oleh-Oleh Khas Morowali-Lis Andi Sompo' dengan modal Rp2 juta dari tabungannya. Produk yang dijualnya sebagian besar berasal dari Wosu, Kecamatan Bungku Barat, yang diproduksi oleh orang tuanya.
Setiap kali mengambil stok, ia harus menempuh perjalanan sejauh 86 kilometer. Biaya bahan bakar kerap menggerus keuntungan. Bahkan, modalnya pernah ludes karena terlalu sering membagikan sampel produk kepada kawan-kawannya. "Kalau ingin maju, jangan takut memulai," ujarnya, memegang teguh prinsipnya.
Perlahan, kondisi berubah seiring megahnya PT IMIP berdiri. Jalanan yang dulu sepi kini riuh oleh lalu lalang pekerja. Warung, rumah kontrakan, dan toko-toko baru bermunculan. Pesanan untuk Lisnawati pun bertambah, mengerek omzetnya hingga rata-rata Rp500 ribu per hari.
Meski sibuk, ia tetap menjalani dua peran. Pagi hingga siang ia bekerja sebagai tenaga honorer, sore hingga malam ia mengurus usaha. Lisnawati juga aktif mengikuti bimbingan teknis yang digelar IMIP untuk pelaku UMKM. "Semoga IMIP sering buat kegiatan seperti itu," harapnya.
Dari Ruang Kelas ke Hiruk-Pikuk Pabrik
Kisah berbeda datang dari Busra. Lulusan Fakultas Tarbiyah UIN Alauddin Makassar tahun 2006 ini awalnya adalah guru honorer di Madrasah Aliyah. Hampir empat tahun ia mengabdi dengan honor Rp350 ribu per bulan yang kerap terlambat.
"Senang melihat perkembangan murid. Dari tidak tahu menjadi tahu," kata Busra mengenang masa mengajarnya. Namun, kebutuhan keluarga membuatnya harus berpikir ulang. "Semuanya saya syukuri karena itu adalah awal perjalanan karier saya," tambahnya.
Titik balik datang pada 2010. PT Bintangdelapan Mineral (BDM), cikal bakal IMIP, membuka lowongan dengan tawaran gaji di atas Rp3 juta. Busra memberanikan diri melamar dan diterima sebagai staf administrasi di bagian Humas dan Community Development. "Yang penting diterima dulu, apa saja pekerjaannya asal halal," ujarnya.
Lima tahun kemudian, Busra dialihkan ke PT IMIP yang berfokus pada industri pengolahan nikel. Perpindahan ini membuatnya menjadi saksi bagaimana Bahodopi berubah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang menarik ribuan pekerja dari berbagai daerah.
UMKM di Bahodopi Tumbuh 51,9 Persen
Perjuangan Lisnawati dan Busra mencerminkan dampak nyata industri terhadap ekonomi lokal. Berdasarkan riset Tim Research and Support PT IMIP, jumlah UMKM di Kecamatan Bahodopi meningkat signifikan. Pada 2022 tercatat 5.034 unit, dan melonjak menjadi 7.643 unit pada 2025, atau tumbuh sekitar 51,9 persen dalam tiga tahun.
Lisnawati sendiri masih menyimpan mimpi besar. Ia ingin memiliki toko oleh-oleh agar produk khas Morowali semakin dikenal. "Harus optimis, jangan pesimis. Kalau ingin maju, jangan takut memulai dan terus semangat menjalankan usaha," pesannya kepada perempuan lain yang ingin mengikuti jejaknya.