SULAWESI TENGAH — Federal Trade Commission (FTC) Amerika Serikat resmi menjatuhkan sanksi ke Hopper, aplikasi travel populer yang mengandalkan kecerdasan buatan untuk memprediksi harga penerbangan dan hotel. Perusahaan setuju membayar USD 35 juta (sekitar Rp 575 miliar) untuk menyelesaikan tuntutan hukum atas praktik biaya tersembunyi yang dinilai merugikan konsumen.
Biaya Tersembunyi dan Kotak Centang Otomatis
FTC menemukan Hopper menggunakan "dark pattern" — desain antarmuka yang sengaja memanipulasi pengguna agar mengambil keputusan yang tidak mereka inginkan. Dalam kasus ini, biaya "Tip" dan "VIP Support" sengaja disembunyikan dan sudah tercentang otomatis di layar aplikasi.
Pengguna baru menyadari adanya biaya tambahan saat harus scroll ke bawah layar. Akibatnya, banyak pelanggan mendapati tagihan membengkak tanpa persetujuan eksplisit mereka. Praktik serupa sebelumnya juga pernah ditindak FTC terhadap Match, StubHub, neobank Dave, dan Fortnite.
Layanan "Price Freeze" dan "VIP Support" yang Menyesatkan
FTC juga menyoroti layanan unggulan Hopper seperti "VIP Support" dan "Price Freeze" atau "Hold the Room". Pengguna diklaim akan mendapat pengalaman booking yang lebih baik, tapi kenyataannya mereka justru berhadapan dengan biaya tambahan dan akses layanan pelanggan yang terbatas.
Untuk layanan "Price Freeze", aplikasi disebut gagal mengomunikasikan batasan penting. Harga yang dibekukan hanya berlaku hingga batas tertentu dan hanya jika kamar atau tiket masih tersedia saat pengguna benar-benar memesan. Banyak pengguna baru sadar saat hendak checkout.
Bantahan Hopper: Praktik Lama yang Sudah Dihentikan
Juru bicara Hopper menyebut tuntutan FTC didasarkan pada praktik yang sudah usang. "Kami memutuskan menyelesaikan kasus ini karena klaim yang dipermasalahkan sudah tidak relevan dengan bisnis kami saat ini," kata perwakilan Hopper dalam pernyataan resmi ke TechCrunch.
Perusahaan menambahkan bahwa setelah meninjau jutaan dokumen sejak 2021, tuduhan FTC hanya menyasar "praktik tampilan lama yang diterapkan selama pandemi, terbatas di aplikasi Hopper, dan sudah dihentikan pada pertengahan 2023 — sebelum penyelidikan FTC dimulai."
Dana Denda untuk Kompensasi Konsumen
Dari total denda USD 35 juta, FTC akan menggunakan dana tersebut untuk "consumer redress" atau kompensasi bagi konsumen yang dirugikan. Hopper juga dilarang keras menyesatkan konsumen soal struktur harga di masa depan. Perusahaan wajib menampilkan semua biaya secara transparan sebelum pengguna menyelesaikan pemesanan.
Sebelum Hopper, FTC juga menghajar StubHub dengan denda USD 10 juta terkait "junk fees", serta Booking Holdings yang membayar USD 9,5 juta setelah digugat Jaksa Agung Texas karena menyembunyikan biaya hingga proses checkout.
Hopper sendiri pertama kali meluncur pada 2014 dan mencatat lebih dari 120 juta unduhan global pada 2024. Kasus ini menjadi pengingat bagi pengguna aplikasi travel untuk selalu mengecek rincian biaya sebelum menekan tombol bayar.