Pencarian

Lidi Sawit Tembus Pasar China, BRI Kucurkan Kredit ke Petani untuk Ekspor 28 Ton ke Negeri Tirai Bambu

Sabtu, 20 Juni 2026 • 21:36:01 WIB
Lidi Sawit Tembus Pasar China, BRI Kucurkan Kredit ke Petani untuk Ekspor 28 Ton ke Negeri Tirai Bambu
Lidi sawit hasil olahan petani Indonesia siap diekspor ke China dengan dukungan kredit BRI.

SULAWESI TENGAH — Lidi sawit, yang biasanya hanya menjadi tumpukan sampah di perkebunan, kini menjelma jadi komoditas ekspor. Pengiriman perdana sebanyak 28 ton dilakukan dari Pelabuhan Belawan, Sumatera Utara, menuju Shanghai, China. Pengapalan ini merupakan hasil kolaborasi antara koperasi petani sawit dan BRI melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR).

KUR BRI Jadi Modal Petani Olah Limbah

Direktur Mikro BRI, Supari, mengatakan pihaknya telah menyalurkan KUR sebesar Rp 1,2 miliar kepada kelompok tani di Riau dan Sumatera Utara untuk mengolah lidi sawit. “Dana itu digunakan untuk membeli mesin pemotong dan pengering, serta biaya sortir sebelum diekspor,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (14/5).

Tanpa kredit ini, petani biasanya hanya membakar lidi sawit atau membiarkannya membusuk di lahan. Kini, setiap ton lidi sawit kering dihargai Rp 2,5 juta di pasar ekspor. Dengan volume 28 ton, nilai transaksi mencapai Rp 70 miliar—angka yang sebelumnya tak terbayangkan oleh petani.

China Borong Lidi Sawit untuk Industri Kreatif

Pasar China ternyata membutuhkan lidi sawit dalam jumlah besar. Bahan baku ini digunakan untuk membuat sapu, sikat, dan kerajinan tangan. “Permintaan dari buyer di Shanghai mencapai 200 ton per bulan, tapi kami baru bisa penuhi 28 ton,” kata Ketua Koperasi Sawit Mandiri, Ahmad Fauzi, yang mendampingi petani dalam proses ekspor.

Koperasi tersebut kini tengah mengajukan tambahan KUR Rp 3 miliar ke BRI untuk memperluas kapasitas produksi. Jika terealisasi, target ekspor bulan depan bisa naik menjadi 50 ton. BRI sendiri berkomitmen menyalurkan KUR sebesar Rp 120 triliun sepanjang 2024, dengan bunga 6 persen per tahun.

Dampak Langsung ke Petani: Pendapatan Naik 3 Kali Lipat

Bagi petani seperti Samsul Bahri, 45 tahun, di Kabupaten Pelalawan, Riau, lidi sawit kini jadi andalan baru. Sebelumnya ia hanya mengandalkan penjualan tandan buah segar (TBS) sawit yang harganya fluktuatif. “Dulu lidi cuma dibuang, sekarang bisa jual Rp 2,5 juta per ton. Pendapatan saya naik tiga kali lipat,” katanya.

Program ini sejalan dengan arahan Kementerian BUMN untuk mendorong hilirisasi produk perkebunan. Direktur Utama BRI, Sunarso, sebelumnya menyatakan pihaknya akan fokus membiayai sektor riil yang berorientasi ekspor. “Kami tidak hanya memberi pinjaman, tapi juga mendampingi petani agar produknya lolos standar internasional,” jelas Sunarso.

Ekspor lidi sawit ini menjadi bukti bahwa limbah perkebunan bisa bernilai ekonomi tinggi. Dengan dukungan permodalan dari BRI, petani kecil kini bisa ikut menikmati rantai pasok global—tanpa harus menjadi korban fluktuasi harga komoditas utama.

Bagikan
Sumber: ekonomi.republika.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks