Guru SD di Parigi Moutong Inisiasi MBG Mandiri Rp 5 Ribu Per Porsi untuk 52 Murid di Pelosok Tinombo

Penulis: Oki Setiawan  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 11:47:01 WIB
Guru SD Kecil Terpencil Ogolau, Muh Najib, menginisiasi program MBG mandiri Rp 5 ribu per porsi bagi 52 muridnya.

PARIGI MOUTONG — Muh Najib mengajar di SD Kecil Terpencil Ogolau, sekolah yang aksesnya sulit dijangkau kendaraan dan harus menyeberangi tiga sungai. Setiap pukul 09.00 hingga 10.00 Wita, murid-muridnya mulai kehilangan fokus dan meminta pulang lebih awal karena menahan lapar. Kondisi itu membuat Najib mencari jalan keluar sendiri.

"Di jam 09.00 atau 10.00 itu sudah banyak yang mengeluh, 'kapan pulang Pak Guru, kami lapar.' Saat saya berkunjung ke rumah-rumah siswa, mayoritas memang berada di kategori prasejahtera, di atas 90 persen. Banyak yang tidak sarapan karena terkendala bahan makanan," ujar Najib kepada detikcom, Kamis (15/10/2026).

Sebelum program berjalan, jam pelajaran di atas pukul 09.00 Wita nyaris tidak efektif. Meski jadwal belajar berakhir pukul 11.30 Wita, para murid sudah tidak mampu menerima materi.

Berawal dari Buah Sirsak di Belakang Sekolah

Ide MBG mandiri muncul dari kejadian yang tidak disengaja. Najib membagikan buah sirsak yang dipetik dari belakang sekolah kepada murid-muridnya. Momen itu ia unggah ke media sosial dengan sebutan Makan Buah Gratis atau MBG.

Video tersebut menarik perhatian sejumlah donatur. "Awal mulanya kami dapat buah sirsak di belakang sekolah. Setelah makan sirsak, kami upload dan nyebutnya Makan Buah Gratis atau MBG. Dari situ ada beberapa donatur yang bilang, 'nanti saya modalin untuk makanan'. Itulah awal mula kami buat program MBG Rp 5.000 ini," jelasnya.

Menu Nasi Kuning hingga Ikan, Dimasak Warung Lokal

Dengan anggaran Rp 5.000 per porsi, menu yang disajikan terdiri dari nasi kuning, mi, sambal, dan sepotong ikan. Pembuatan makanan diserahkan sepenuhnya kepada pemilik warung lokal di wilayah Kilometer 5, berjarak sekitar 3 kilometer dari sekolah.

"Akses jalan termasuk sulit karena harus menyeberangi tiga sungai. Tapi karena pemilik warung warga lokal, beliau sudah terbiasa," ungkap Najib.

Ketersediaan bahan baku menjadi kendala tersendiri. Pemilik warung harus menunggu hari pasar setiap Selasa atau berbelanja ke pusat kecamatan. Akibatnya, program belum bisa digelar setiap hari.

Kehadiran Murid Melonjak, Keluhan Lapar Hilang

Meski berjalan bergantung donasi, program ini membawa perubahan nyata pada dinamika belajar. Angka kehadiran siswa melonjak dan keluhan lapar di tengah jam pelajaran tidak lagi muncul.

Najib menyebut dana yang terkumpul saat ini cukup untuk mendanai empat sampai lima kali makan berikutnya. Program bertahan berkat dukungan followers di Instagram dan TikTok miliknya.

Sepotong Ikan untuk Mamak di Rumah

Salah satu momen paling berkesan bagi Najib terjadi saat distribusi makanan berlangsung. Seorang murid menyisihkan sebagian lauknya untuk dibawa pulang.

"Salah satu cerita paling berkesan adalah ketika mereka dapat nasi kuning dan sepotong ikan. Ada murid yang menyisihkan sebagian ikannya sambil bilang, 'Oh, sepotongnya ini saya mau bawakan ke mamakku, Pak Guru.' Itu sangat berkesan bagi saya," kenangnya haru.

Harapan agar MBG Resmi Menjangkau Sekolah Pelosok

Melihat dampak yang nyata, Najib berharap program MBG resmi pemerintah segera menjangkau sekolah-sekolah terpencil di Kecamatan Tinombo. Ia menilai indikator kebutuhan sekolahnya sangat jelas.

"Kalau indikatornya adalah butuh, sekolah kami sangat butuh. Di Kecamatan Tinombo ini ada cukup banyak sekolah terpencil yang sangat membutuhkan manfaat program MBG. Besar harapan kami pemerintah bisa merealisasikan aspirasi siswa-siswi di sekolah terpencil," pungkasnya.

Reporter: Oki Setiawan
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top