SULAWESI TENGAH — Pelemahan tipis ini terjadi di tengah masih kuatnya indeks dolar AS di pasar global. Pelaku pasar tampak masih wait and see menunggu data ekonomi terbaru dari Amerika Serikat yang bisa menjadi sinyal arah kebijakan suku bunga The Fed.
Berdasarkan data yang dihimpun, pergerakan rupiah hari ini masih berada dalam rentang yang sempit. Tekanan jual terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah, belum mereda sepenuhnya.
Para analis menilai depresiasi rupiah yang terjadi dalam beberapa pekan terakhir lebih disebabkan oleh faktor eksternal. Permintaan dolar AS yang tinggi untuk pembayaran impor dan utang luar negeri korporasi juga ikut menekan nilai tukar.
Penguatan dolar AS didorong oleh ekspektasi pasar bahwa suku bunga acuan The Fed akan bertahan lebih lama di level tinggi. Data ketenagakerjaan AS yang dirilis pekan lalu masih menunjukkan ekonomi yang solid, sehingga memberikan ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru melonggarkan kebijakan moneternya.
Di sisi lain, Bank Indonesia (BI) dihadapkan pada dilema antara menjaga stabilitas nilai tukar dan mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Intervensi yang dilakukan BI melalui pasar valas dan operasi moneter dinilai masih menjadi tameng utama untuk meredam gejolak rupiah.
Sepanjang hari, pergerakan rupiah diprediksi akan mengikuti arah permintaan dolar AS dari pelaku pasar domestik. Titik support terdekat berada di level psikologis Rp17.650, sementara resistance langsung terlihat di kisaran Rp17.630.
Jika tekanan eksternal mereda, bukan tidak mungkin rupiah berbalik menguat tipis pada sesi perdagangan sore nanti. Namun, tanpa katalis positif baru, laju rupiah kemungkinan besar masih akan sulit keluar dari zona tekanan.