LUWUK — Ribuan mata mahasiswa baru Universitas Tompotika (Untika) Luwuk tertuju pada peta rawan bencana yang dipaparkan dalam kuliah umum pembukaan tahun akademik 2026/2027. Mereka berasal dari tujuh fakultas dan 15 program studi, hadir untuk memahami bagaimana teknologi dan kearifan lokal bisa menjadi tameng menghadapi gempa.
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Kuliah Lantai III itu mengusung tema "Integrasi Kearifan Lokal, Teknologi, dan Inovasi di Daerah Rawan Gempa dalam Rangka Kesiapsiagaan Menghadapi Risiko Gempa." Hadir sebagai narasumber, Prof. Dr. Ar. Ir. Naidah Naing, S.T., M.Si., IAI., IPU., ASEAN Eng.
Bupati Amirudin menilai kehadiran Guru Besar UMI Makassar menjadi kesempatan berharga bagi sivitas akademika, khususnya mahasiswa baru. Menurutnya, forum ini bukan sekadar seremonial penerimaan mahasiswa, melainkan ruang untuk membangun wawasan kebencanaan sejak dini.
"Saya berharap kegiatan kuliah umum ini tidak hanya menjadi forum untuk mendengarkan pemaparan materi, tetapi juga menjadi ruang untuk bertukar gagasan, membangun wawasan, dan menumbuhkan semangat mahasiswa untuk terus belajar dan mengembangkan diri," ujar Bupati Amirudin dalam sambutannya.
Di hadapan Rektor Untika Luwuk, para Wakil Rektor, Dekan, dan dosen senior, Bupati Amirudin menyampaikan apresiasi atas komitmen kampus dalam menghadirkan sumber belajar eksternal. Ia menilai langkah ini memperluas jejaring akademik sekaligus membuka cakrawala berpikir mahasiswa.
Bupati juga menitipkan pesan khusus kepada 579 mahasiswa baru agar tidak berhenti belajar dan berani bermimpi. "Jadikan pendidikan sebagai bekal untuk memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa," pesannya.
Kuliah umum ini dirancang untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai mitigasi risiko gempa. Targetnya, lahir gagasan inovatif yang memadukan teknologi dengan kearifan lokal dalam menghadapi tantangan kebencanaan di Kabupaten Banggai.
Kegiatan akademik seperti ini diharapkan terus dilaksanakan dan dikembangkan oleh Untika Luwuk. Kehadiran narasumber dari luar daerah menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkaya perspektif mahasiswa tentang penanganan bencana di wilayah yang secara geologis berada di zona rawan gempa.