Komando Resor Militer (Korem) 132/Tadulako memastikan pembangunan 53 unit Jembatan Garuda di Sulawesi Tengah hampir seluruhnya tuntas. Dari total target tersebut, 52 jembatan telah rampung 100 persen dan hanya tersisa satu unit yang proses pengerjaannya sudah di atas 90 persen serta ditargetkan selesai dalam pekan ini.
SIGI — Pembangunan infrastruktur perdesaan di Sulawesi Tengah memasuki tahap akhir. Korem 132/Tadulako melaporkan progres fisik 53 unit Jembatan Garuda yang tersebar di wilayahnya telah mencapai hampir seratus persen, menandai rampungnya program konektivitas yang menyasar daerah-daerah terpencil.
Komandan Korem 132/Tadulako Brigjen TNI Suntara Wisnu Budi Hidayanta mengungkapkan, dari total 53 unit yang menjadi tanggung jawabnya, saat ini hanya satu unit yang masih dalam penyelesaian akhir. Jembatan terakhir tersebut dilaporkan sudah mencapai progres lebih dari 90 persen dan ditargetkan tuntas dalam minggu ini juga.
Peresmian Jembatan Aramco di Sigi Jadi Simbol Penyelesaian
Pernyataan tersebut disampaikan Danrem di sela peresmian Jembatan Aramco Kodim 1306 Kota Palu yang berlokasi di Desa Bahagia, Kabupaten Sigi, Jumat. Jembatan ini menjadi salah satu dari puluhan unit yang dibangun untuk memecah isolasi wilayah dan memperlancar mobilitas warga.
Setelah menuntaskan 53 unit tersebut, Korem 132/Tadulako tidak berhenti. Brigjen Suntara menuturkan pihaknya telah menerima mandat tambahan untuk membangun lima unit jembatan baru di Sulawesi Tengah dengan target penyelesaian akhir Desember 2026.
Desa Bahagia: 90 Persen Warga Petani, Jembatan Jadi Penggerak Ekonomi
Kehadiran Jembatan Garuda di Desa Bahagia dinilai menjadi solusi atas persoalan mobilitas yang telah berlangsung puluhan tahun. Kepala Desa Bahagia Jaki Hadisuparto menjelaskan, sebelum infrastruktur ini berdiri, warga harus menyeberangi sungai secara langsung untuk mengakses area persawahan dan perkebunan.
"Jika terjadi banjir maka warga harus mengambil jalan lebih jauh atau memutar ke jalan lingkar untuk menuju kebun dan sawah," ucap Jaki.
Desa Bahagia yang merupakan kawasan pemukiman transmigrasi sejak 1965 ini memiliki struktur ekonomi yang sangat bergantung pada sektor pertanian. Dari total 303 kepala keluarga atau sekitar 1.039 jiwa, sebanyak 90 persen penduduknya bekerja sebagai petani hortikultura, petani sawah, maupun perkebunan.
Jaki menambahkan, manfaat jembatan ini sangat besar karena memangkas waktu tempuh serta memudahkan angkutan hasil pertanian menuju pasar dan fasilitas publik seperti puskesmas serta lembaga pendidikan.
Target Berikutnya: Lima Jembatan Tambahan Hingga Akhir 2026
Dengan rampungnya program 53 jembatan, Korem 132/Tadulako kini bersiap menggarap mandat baru. Lima unit jembatan tambahan di Sulawesi Tengah akan menjadi fokus pengerjaan hingga penghujung tahun 2026.
Danrem berharap seluruh infrastruktur yang telah dibangun mampu menjadi penggerak roda perekonomian lokal dengan mempermudah aksesibilitas masyarakat menuju area produktif, pasar, fasilitas kesehatan, maupun lembaga pendidikan di masing-masing wilayah.