TOJO UNA-UNA — Kelompok Nelayan AMANAH di Desa Lembanato, Kecamatan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, resmi mengoperasikan Sistem Rompong Pintar Berbasis Energi Surya Hibrida atau Smart Green Fishing System. Teknologi ini merupakan hasil Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Tadulako yang bertujuan menekan beban biaya operasional nelayan di wilayah kepulauan.
Ketua Tim PKM Universitas Tadulako, Ryfial Azhar, menyebut inovasi ini lahir dari persoalan klasik yang dihadapi nelayan setempat. Lokasi Desa Lembanato yang sulit dijangkau membuat harga BBM di tingkat pengecer jauh lebih mahal dibandingkan daerah lain.
“Selama ini, lokasi Desa Lembanato yang relatif sulit dijangkau menyebabkan harga BBM di tingkat pengecer lebih tinggi, sementara penggunaan genset untuk menyalakan lampu atraktor selama 10 hingga 12 jam pada malam hari membuat sebagian pendapatan hasil tangkapan habis untuk menutupi biaya bahan bakar,” ujarnya.
Mengandalkan Matahari untuk Lampu Atraktor Ikan
Alih-alih bergantung pada genset berbahan bakar fosil, tim Universitas Tadulako merakit sistem yang memanfaatkan panel surya monocrystalline 200 Wp dan baterai deep cycle 12V 100Ah. Energi matahari yang terkumpul pada siang hari disimpan dan digunakan untuk menyalakan lampu LED marine grade IP68 sebagai atraktor ikan pada malam hari.
Sistem ini dilengkapi smart controller berbasis mikrokontroler dengan pengaturan waktu dan auto-dimming. Artinya, intensitas cahaya bisa diatur terang-redup secara otomatis sehingga konsumsi daya menyesuaikan kebutuhan operasional penangkapan.
Tim yang beranggotakan Sri Khaerawati Nur dari Fakultas Teknik Prodi Teknik Informatika dan Roni Hermawan dari Fakultas Peternakan dan Perikanan Prodi Ilmu Kelautan ini memastikan teknologi tersebut mendukung konsep Green Fishing. Ketergantungan pada BBM berkurang, begitu pula kebisingan mesin genset, emisi karbon, dan risiko pencemaran di perairan Kepulauan Togean.
Nelayan Dilatih Mandiri Sejak Tahap Perakitan
Penerapan teknologi ini tidak dilakukan secara instan. Tim Universitas Tadulako menggelar Focus Group Discussion (FGD) terlebih dahulu untuk memberi pemahaman tentang Green Fishing, manajemen daya, dan sistem otomatisasi pencahayaan kepada anggota Kelompok Nelayan AMANAH.
Setelah itu, nelayan dilibatkan langsung sejak penyiapan rakit, pemasangan rangka aluminium untuk panel surya, hingga integrasi seluruh komponen kelistrikan. Pendampingan teknis juga diberikan, termasuk cara membaca indikator baterai, membersihkan panel dari kerak garam laut, dan menangani gangguan teknis ringan.
Keterlibatan aktif masyarakat menjadi kunci agar teknologi ini bisa dioperasikan dan dirawat secara mandiri oleh nelayan setempat, tanpa ketergantungan pada pendamping dari luar daerah.
Jadi Percontohan Green Fishing di Kepulauan Togean
Rompong pintar yang dipasang pada Kelompok Nelayan AMANAH diharapkan menjadi unit percontohan bagi nelayan lain di Desa Lembanato dan kawasan Kepulauan Togean. Kehadiran teknologi ini membuktikan bahwa inovasi tepat guna berbasis energi terbarukan mampu menjadi solusi nyata untuk menekan biaya energi sekaligus memodernisasi perikanan tangkap.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat nelayan dinilai penting untuk memperkuat keberlanjutan program. Model ini juga membuka peluang replikasi pada unit rompong lainnya di wilayah pesisir Kabupaten Tojo Una-Una.
Dengan sistem ini, Kelompok Nelayan AMANAH diarahkan menuju model usaha perikanan yang lebih hemat energi, mandiri secara teknis dan finansial, serta mendukung keberlanjutan ekonomi masyarakat pesisir setempat.