PARIGI — Capaian produksi padi di Parigi Moutong terus menunjukkan tren positif. Dengan luas tanam mencapai 63 ribu hektare, daerah ini menghasilkan 317.361 ton gabah kering giling (GKG) yang setara dengan lebih dari 180 ribu ton beras siap konsumsi per tahun.
"Kelebihan produksi ini salah satu angka paling besar dibandingkan dengan surplus beberapa tahun lalu. Dibandingkan dengan 2024, angka surplus hanya sekitar 98 ribu ton," kata Kepala Dinas TPHP Parigi Moutong, Dadan Priatna, di Parigi, Jumat.
Konsumsi Lokal Hanya 50 Ribu Ton per Tahun
Kebutuhan konsumsi beras warga Parigi Moutong terbilang kecil dibandingkan produksinya. Dengan jumlah penduduk sekitar 459.570 jiwa yang tersebar di 283 desa dan kelurahan, rata-rata konsumsi lokal hanya mencapai 50 ribu ton per tahun.
Artinya, kelebihan produksi yang sangat besar otomatis menjadi stok cadangan yang bisa didistribusikan ke luar daerah. Sebagian besar beras asal Parigi Moutong dipasok ke pasar Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Utara, termasuk Maluku Utara dan sekitarnya.
Metode Tanam Baru Targetkan Produktivitas 10 Ton per Hektare
Saat ini petani lokal mengandalkan sistem tanam benih langsung (tabela) yang mampu berproduksi dua hingga tiga kali dalam setahun. Rata-rata produktivitas berkisar di angka 5,2 ton per hektare.
Pemerintah setempat kini mendorong inovasi dengan metode tanam Pertanian Modern Advanced Agricultural System (PM-AAS), sebuah budidaya berbasis teknologi untuk meningkatkan hasil panen. "Dari metode PM-AAS, produktivitas padi petani diproyeksikan meningkat hingga 10 ton per hektare," tutur Dadan.
Meski produksi melimpah, pemerintah daerah tetap berupaya menjaga stabilitas harga beras agar terjadi keseimbangan antara produksi dan harga pasar. Hingga saat ini harga beras di tingkat petani dinilai masih stabil.
Pertanian menjadi salah satu sektor unggulan di Parigi Moutong selain kelautan dan perikanan. Sektor ini berkontribusi signifikan terhadap penggerak roda perekonomian daerah, sekaligus menopang ketahanan pangan nasional.