POSO — Bukan lagi hanya tugas tenaga medis, upaya menekan angka Tuberkulosis (TB) di daerah mulai digeser ke unit terkecil masyarakat: keluarga. Poltekkes Kemenkes Palu baru-baru ini menggelar program pemberdayaan kader dan keluarga di Desa Tagolu, Poso, dengan fokus pada tugas kesehatan keluarga dalam pencegahan TB.
Mengapa Keluarga Jadi Garda Terdepan?
Selama ini, penjaringan kasus TB sering kali baru dilakukan ketika gejala sudah parah. Poltekkes menilai kader dan anggota keluargalah yang paling mungkin mendeteksi gejala awal, seperti batuk berkepanjangan, di lingkungan rumah tangga. Pelatihan ini membekali mereka dengan pengetahuan tentang cara penularan, gejala, dan langkah-langkah yang harus diambil jika menemukan anggota keluarga yang dicurigai terinfeksi.
“Kami tidak hanya bicara soal penyembuhan, tapi bagaimana mencegah penularan dari satu anggota keluarga ke anggota lainnya,” ujar perwakilan tim pengabdian masyarakat dari Poltekkes Kemenkes Palu dalam sesi pelatihan di Poso.
Dari Poso, Target Nasional Dikejar
Desa Tagolu dipilih sebagai salah satu lokasi percontohan karena akses layanan kesehatan yang masih terbatas dan tingginya risiko penularan di lingkungan padat penduduk. Dengan melibatkan kader posyandu dan tokoh masyarakat setempat, program ini diharapkan bisa menjadi model replikasi untuk desa-desa lain di Kabupaten Poso dan sekitarnya.
Kader yang telah dilatih nantinya bertugas melakukan pemantauan rutin, mendampingi warga yang sedang dalam pengobatan, serta memastikan kepatuhan minum obat. Pendekatan ini dinilai lebih efektif ketimbang hanya mengandalkan kunjungan pasien ke puskesmas yang jaraknya bisa puluhan kilometer dari permukiman.
Langkah Konkret Wujudkan Eliminasi 2030
Pemerintah menargetkan eliminasi TB pada 2030, sebuah target yang menuntut partisipasi aktif dari semua pihak. Di Sulawesi Tengah, temuan kasus TB masih cukup tinggi, dan banyak pasien yang putus berobat karena kurangnya dukungan dari lingkungan terdekat.
Dengan pelibatan langsung keluarga, Poltekkes berharap angka keberhasilan pengobatan (success rate) bisa meningkat signifikan. “Keluarga adalah pengawas minum obat yang paling konsisten. Mereka yang paling tahu kebiasaan dan kondisi kesehatan anggota keluarganya,” tambahnya.
Program ini menjadi bukti bahwa upaya kesehatan tidak melulu soal alat canggih atau rumah sakit besar, melainkan juga tentang bagaimana memberdayakan warga biasa menjadi agen perubahan di kampungnya sendiri.