PALU — Laju inflasi di Sulawesi Tengah pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,77 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan tekanan harga yang masih terjaga di tengah meningkatnya biaya mobilitas warga.
BPS Sulteng merilis data bahwa kenaikan harga terjadi di berbagai sektor, namun transportasi menjadi pendorong utama. Tarif angkutan udara yang melonjak jelang musim libur serta harga BBM di tingkat eceran disebut sebagai faktor dominan yang memicu kenaikan indeks harga konsumen.
Biaya Transportasi Naik, Tarif Udara dan BBM Jadi Biang Kerok
Kelompok transportasi mencatat inflasi tertinggi dibandingkan kelompok pengeluaran lainnya. Kenaikan tarif angkutan udara terjadi pada rute-rute domestik dari dan menuju Bandar Udara Mutiara Sis Al-Jufri di Palu. Sementara itu, harga BBM jenis pertalite dan solar di beberapa SPBU di Kabupaten Donggala dan Parigi Moutong juga mengalami penyesuaian harga dalam sebulan terakhir.
Kepala BPS Sulteng, dalam rilis data yang diterima redaksi, menyebutkan bahwa inflasi transportasi ini bersifat musiman. "Kenaikan tarif angkutan udara sudah terlihat sejak akhir April dan puncaknya terjadi pada pekan ketiga Mei," ujarnya dalam keterangan resmi.
Dampak ke Harga Bahan Pokok dan Sektor Lain
Meski transportasi menjadi kontributor utama, inflasi juga merambah kelompok bahan makanan. Kenaikan harga cabai rawit dan bawang merah di pasar tradisional di Kota Palu ikut mendorong angka inflasi umum. Namun, kenaikan harga komoditas pangan masih relatif terkendali berkat pasokan yang lancar dari daerah sentra produksi di Kabupaten Sigi dan Poso.
BPS mencatat, dari 10 kota pemantau inflasi di Sulteng, seluruhnya mengalami inflasi tahunan. Inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Banggai, sementara yang terendah tercatat di Kabupaten Tolitoli.
Apa Langkah Selanjutnya untuk Menjaga Daya Beli?
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah diharapkan segera menggelar operasi pasar murah untuk menekan gejolak harga kebutuhan pokok. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulteng sebelumnya telah mengantisipasi lonjakan harga dengan menggelar pasar penyeimbang di sejumlah titik rawan inflasi.
Langkah koordinasi dengan pemasok bahan pokok dan pengelola transportasi juga menjadi prioritas agar distribusi barang tidak terganggu. Masyarakat diimbau untuk berbelanja secara bijak dan tidak melakukan aksi panic buying yang justru bisa memicu kenaikan harga lebih lanjut.