Pencarian

Data BPS Ungkap 7 dari 10 Pekerja di Sulteng Masih Bergantung pada Sektor Pertanian hingga 2026

Sabtu, 30 Mei 2026 • 16:34:38 WIB
Data BPS Ungkap 7 dari 10 Pekerja di Sulteng Masih Bergantung pada Sektor Pertanian hingga 2026
Mayoritas pekerja di Sulawesi Tengah masih bergantung pada sektor pertanian hingga 2026.

SULAWESI TENGAH — Berdasarkan data proyeksi BPS, struktur ketenagakerjaan Sulteng dalam dua tahun ke depan belum menunjukkan pergeseran signifikan ke sektor industri atau jasa. Sektor agraris diprediksi tetap mendominasi dengan kontribusi terhadap total tenaga kerja mencapai angka 70 persen lebih.

Mengapa Sektor Agraris Masih Mendominasi?

Para analis menilai, dominasi ini tidak lepas dari karakteristik geografis Sulteng yang sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan pedesaan dan lahan produktif. Komoditas unggulan seperti kakao, kelapa sawit, dan perikanan tangkap masih menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian besar rumah tangga di 13 kabupaten/kota.

Selain itu, minimnya investasi di sektor industri manufaktur dan pengolahan juga menjadi faktor. Belum banyak pabrik atau kawasan industri besar yang beroperasi di Sulteng, sehingga pilihan lapangan kerja formal di luar sektor agraris masih terbatas.

Berapa Jumlah Tenaga Kerja yang Terlibat?

BPS mencatat, dari total angkatan kerja di Sulteng yang mencapai angka 1,5 juta jiwa lebih, mayoritas bekerja di sektor informal. Sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar, disusul sektor perdagangan dan jasa dalam skala yang jauh lebih kecil.

Angka ini sekaligus menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah untuk mulai mendorong hilirisasi produk pertanian. Tujuannya agar tenaga kerja tidak hanya bertahan di sektor hulu, tetapi juga bisa terserap di sektor pengolahan yang bernilai tambah lebih tinggi.

Dampaknya bagi Warga dan Perekonomian Daerah

Ketergantungan yang tinggi pada sektor agraris membuat perekonomian Sulteng rentan terhadap fluktuasi harga komoditas global dan perubahan iklim. Saat harga kakao atau sawit turun, daya beli masyarakat di pedesaan ikut tertekan.

Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sulteng dalam berbagai kesempatan menekankan perlunya diversifikasi ekonomi. Pihaknya mendorong pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi digital sebagai alternatif lapangan kerja baru bagi generasi muda.

Ke depan, pemerintah provinsi menargetkan penurunan angka pengangguran terbuka melalui program pelatihan vokasi yang link and match dengan kebutuhan industri. Namun, perubahan struktur tenaga kerja dari agraris ke industri diperkirakan masih membutuhkan waktu dan investasi yang tidak sedikit.

Bagikan
Sumber: sulteng.pikiran-rakyat.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks