WAKAI — Dapur MBG di Desa Bambu menjadi satu dari lima titik pembangunan dapur serupa di Kecamatan Wakai, Kabupaten Tojo Una-Una. Kehadiran program ini disambut antusias oleh masyarakat setempat yang selama ini mengandalkan akses pangan dari luar pulau.
Mengapa Warga Masih Keluhkan Listrik?
Di balik euforia program MBG, warga Wakai masih bergulat dengan persoalan klasik: aliran listrik yang belum menyala 24 jam. Keterbatasan ini mempengaruhi produktivitas warga dan penyimpanan bahan pangan, termasuk di dapur MBG yang baru beroperasi.
“Kami senang ada dapur MBG, tapi listrik belum penuh. Kalau bisa, pemerintah juga perhatikan itu,” ujar salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.
Proses Pendirian Dapur MBG di Pulau Terpencil
Pembangunan dapur MBG di Desa Bambu melalui tahapan yang tidak sederhana. Seluruh material bangunan dan peralatan masak harus diangkut menggunakan perahu dari pelabuhan terdekat. Kondisi geografis Pulau Wakai yang berada di tengah Teluk Tomini membuat akses logistik menjadi tantangan utama.
Tim pelaksana program MBG membutuhkan waktu beberapa pekan untuk menyelesaikan konstruksi dapur. Setelah rampung, dapur langsung difungsikan untuk menyiapkan makanan bergizi bagi anak-anak sekolah di sekitar desa.
Apa Langkah Pemerintah Selanjutnya?
Pemerintah Kecamatan Wakai menyatakan akan mengoordinasikan usulan perluasan jaringan listrik ke pihak PLN setempat. Program MBG sendiri dijadwalkan berjalan secara bertahap di lima titik dapur di kecamatan tersebut.
“Kami akan dorong agar listrik 24 jam bisa terealisasi. Ini kebutuhan dasar yang mendukung program-program lain,” kata perwakilan pemerintah kecamatan.