SIGI — Penghargaan ini diberikan sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi Pemkab Sigi dalam menjaga stabilitas harga barang dan jasa di pasaran. Insentif tersebut merupakan bagian dari program kebijakan pemerintah pusat untuk mendorong daerah-daerah berprestasi dalam mengelola inflasi.
Strategi Pemkab Sigi Kendalikan Harga Pangan
Keberhasilan Sigi tidak lepas dari sejumlah langkah konkret yang dijalankan sepanjang tahun. Salah satunya adalah operasi pasar murah yang digelar secara rutin di titik-titik rawan kenaikan harga, terutama menjelang hari besar keagamaan.
Pemkab juga mengoptimalkan peran Badan Urusan Logistik (Bulog) daerah untuk menjaga stok beras dan komoditas strategis lainnya. Kerja sama dengan petani lokal pun diperkuat guna memastikan rantai pasok dari hulu ke hilir berjalan lancar tanpa gejolak harga.
Dampak Insentif Rp3 Miliar bagi Warga Sigi
Dana insentif yang diterima dari Kemendagri akan difokuskan kembali untuk program pengendalian inflasi. Pemerintah daerah berencana mengalokasikan sebagian besar dana tersebut untuk subsidi ongkos angkut logistik ke daerah terpencil dan pengembangan pasar desa.
“Kami akan gunakan untuk memperkuat ketahanan pangan, termasuk bantuan benih dan pupuk bagi petani. Ini bentuk keberlanjutan agar inflasi tetap terkendali,” ujar pejabat Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat dalam keterangan resmi.
Bagaimana Sigi Bersaing dengan Daerah Lain?
Penilaian dilakukan oleh Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) pusat yang memonitor data harga secara real-time. Sigi dinilai unggul dalam indikator stabilitas harga bahan pokok, efektivitas belanja daerah, serta inovasi program pengendalian.
Dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia, hanya segelintir yang masuk kategori berkinerja terbaik. Sigi menjadi satu-satunya wakil dari Provinsi Sulawesi Tengah yang berhasil membawa pulang penghargaan bergengsi ini.
Langkah Berikutnya Setelah Raih Prestasi
Pemkab Sigi tidak berencana berpuas diri. Ke depan, mereka akan memperluas jangkauan program ke subsektor hortikultura dan perikanan. Pasar tradisional juga akan direvitalisasi agar distribusi barang lebih efisien dan harga tetap terjangkau bagi warga.
Dengan insentif segar ini, Sigi berharap bisa menjadi percontohan bagi daerah lain di Indonesia Timur dalam mengelola gejolak ekonomi lokal.