PALU — Rencana pengalihan arus lalu lintas dari satu arah menjadi dua arah di Jalan Wahid Hasyim, Palu Barat, akhirnya memiliki kepastian jadwal. Uji coba akan berlangsung mulai 1 Juni 2026, sebuah langkah yang dinilai warga sebagai solusi atas kemacetan yang kerap terjadi sejak jam sibuk pagi hingga menjelang magrib.
Selama ini, ruas Jalan Wahid Hasyim hanya melayani kendaraan dari arah utara ke selatan. Akibatnya, kendaraan dari kawasan Palu Barat yang hendak menuju pusat kota harus memutar melalui jalan alternatif yang lebih sempit dan padat permukiman.
Mengapa Jalur Ini Dipilih untuk Uji Coba?
Jalan Wahid Hasyim merupakan salah satu arteri utama yang menghubungkan Palu Barat dengan Kecamatan Palu Selatan dan Palu Timur. Kepadatan di ruas ini meningkat signifikan dalam dua tahun terakhir seiring bertambahnya jumlah kendaraan pribadi dan aktivitas bongkar muat di gudang-gudang sekitar.
Pemkot Palu, melalui Dinas Perhubungan, telah melakukan survei geometrik jalan dan volume kendaraan selama tiga bulan terakhir. Hasilnya, lebar badan jalan dinilai memadai untuk dilewati dua kendaraan secara bersamaan tanpa mengurangi ruang parkir di badan jalan secara drastis.
Dampak Langsung yang Dirasakan Warga
Sejumlah warga yang ditemui di sekitar Pasar Inpres Palu Barat menyambut positif uji coba ini. Mereka menilai akses menuju pusat perbelanjaan dan kantor pemerintahan akan lebih pendek.
“Selama ini kami harus mutar lewat Jalan Rajawali yang selalu macet kalau jam pulang sekolah. Kalau dua arah jadi, waktu tempuh ke kantor bisa hemat 15 menit,” ujar Andi, seorang pegawai swasta yang tinggal di Kelurahan Lere.
Apa yang Berubah Selama Uji Coba?
Selama masa uji coba, marka jalan dan rambu lalu lintas akan diperbarui. Dinas Perhubungan juga akan menempatkan petugas di titik-titik rawan konflik, terutama di perempatan dekat Pasar Inpres dan simpang Jalan Cumi-Cumi.
Pemkot Palu belum memutuskan apakah sistem ini akan permanen. Evaluasi akan dilakukan selama dua pekan pertama dengan indikator utama berupa kecepatan rata-rata kendaraan dan jumlah kecelakaan.
Potensi Dampak Ekonomi di Sekitar Jalan Wahid Hasyim
Pelaku UMKM dan pemilik warung di sepanjang jalan ini berharap arus dua arah bisa mendatangkan lebih banyak pembeli. Selama ini, pelanggan dari sisi barat jalan enggan memutar jauh hanya untuk mampir ke warung.
“Dulu pembeli dari seberang malas nyebrang karena harus putar balik di ujung jalan. Sekarang tinggal lewat, langsung berhenti,” kata Sari, pemilik warung sembako di Kelurahan Siranindi.
Namun, kekhawatiran juga muncul dari warga yang rumahnya berada di tepi jalan. Mereka meminta Pemkot memasang rambu batas kecepatan dan polisi tidur untuk mengurangi risiko kecelakaan, terutama pada malam hari.