SIGI — Kantor Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Kabupaten Sigi memastikan seluruh jamaah calon haji asal wilayah tersebut akan langsung diberangkatkan menuju Embarkasi Balikpapan. Skema ini berbeda dari biasanya karena jamaah tidak lagi menginap di Asrama Haji Transit Palu, Sulawesi Tengah.
Keputusan tersebut menyesuaikan jadwal pemberangkatan gelombang kedua. Karena rute penerbangan langsung menuju Jeddah, para jamaah diwajibkan sudah mengenakan kain ihram sejak masih berada di Embarkasi Balikpapan.
Rincian Kloter dan Dominasi Jamaah Perempuan Sigi
Kepala Kantor Kemenhaj Sigi, Abdul Haris, merinci bahwa 100 jamaah tersebut terbagi ke dalam tiga kelompok terbang (kloter), yakni kloter 10, 11, dan 12. Komposisi jamaah tahun ini secara signifikan didominasi oleh kaum perempuan.
"Jadi, jamaah calon haji perempuan asal Sigi pada tahun ini berjumlah 63 orang dan laki-laki 37 orang, sehingga sebagian besar memang didominasi perempuan," kata Haris saat ditemui awak media di Sigi, Sabtu.
Haris menambahkan bahwa para jamaah yang berangkat pada musim haji 2026 ini merupakan mereka yang telah mengantre lama. Tercatat, seluruh rombongan ini adalah warga yang sudah melakukan pendaftaran sejak tahun 2013 silam.
Mengapa Jamaah Diminta Menjaga Kekompakan?
Mengingat perjalanan ibadah yang panjang, Haris menekankan pentingnya solidaritas antarjamaah. Ia meminta jamaah yang memiliki fisik lebih kuat untuk secara sukarela membantu jamaah yang lebih lemah atau berusia lanjut selama di Tanah Suci.
"Pesan saya kepada jamaah calon haji agar selalu menjaga kekompakan, selalu saling membantu, jadi yang kuat membantu yang lemah, dan paling utama menjaga kesehatan, sehingga beribadah haji di Tanah Suci nyaman dan aman," tuturnya.
Ia juga mengingatkan agar seluruh jamaah tetap disiplin mengikuti aturan yang telah ditetapkan pemerintah. Hal ini demi kelancaran proses ibadah dari keberangkatan hingga kepulangan nanti.
Mayoritas Jamaah Masuk Kategori Risiko Tinggi
Berdasarkan data kesehatan, mayoritas jamaah asal Kabupaten Sigi tahun ini memerlukan pengawasan ekstra. Tercatat sebanyak 58 orang masuk dalam kategori risiko tinggi (risti) kesehatan selama pelaksanaan ibadah.
Kondisi ini diperkuat dengan profil usia jamaah yang berangkat. Dari total 100 orang, sebanyak 28 di antaranya merupakan jamaah lanjut usia (lansia) yang membutuhkan perhatian khusus dari rekan serombongan maupun petugas di lapangan.