SULAWESI TENGAH — Luna Pro dibekali sensor berukuran 1 inci yang dipadukan dengan lensa Leica Summicron. Kombinasi ini ditopang chipset 4 nm dan prosesor gambar khusus yang menangani pemrosesan video resolusi tinggi secara real-time.
Kemampuan rekamannya mencapai 8K dengan dukungan Dolby Vision. Untuk kebutuhan slow motion, kamera ini bisa merekam hingga 1080p 240 fps. Ada pula dukungan 2x lossless zoom dan 4x HighRes zoom.
Sebagai kamera gimbal, stabilisasi 3-axis menjadi fitur utamanya untuk menghasilkan video yang stabil saat perekaman bergerak.
Untuk preview dan kontrol, Insta360 menyematkan layar OLED touchscreen 2 inci yang bisa dilepas dan diputar. Fleksibilitas ini memudahkan pengambilan gambar dari berbagai sudut, termasuk saat layar diposisikan vertikal.
Dalam posisi vertikal, pengguna bisa merekam video hingga 4K 30 fps dengan 6K oversampling. Mode ini relevan untuk kreator yang memproduksi konten format portrait untuk platform media sosial.
Kerja sama dengan Leica tidak berhenti di lensa. Luna Pro menyertakan sejumlah filter khas Leica seperti Leica Natural, Leica Vivid, dan Leica Chrome, di samping filter gambar standar lainnya.
Untuk kebutuhan produksi profesional, kamera ini mendukung perekaman video 10-bit I-Log dengan standar workflow ACES. Fitur ini memungkinkan color grading lanjutan di tahap pascaproduksi.
Penyimpanan internal Luna Pro berkapasitas 47 GB. Jika dirasa kurang, tersedia slot microSD untuk ekspansi. Baterainya diklaim mampu bertahan hingga 4 jam dalam sekali pengisian.
Insta360 Luna Pro dijual dengan harga USD 599,99 atau sekitar Rp 10,5 juta untuk varian Standard Bundle. Tersedia dua pilihan warna, yakni Cosmic Black dan Stellar White.
Posisi Luna Pro di jajaran produk Insta360 melengkapi Luna Ultra yang punya kamera telefoto. Keduanya menyasar segmen pengguna berbeda: Luna Pro untuk yang mengutamakan sensor besar dan kesederhanaan satu lensa, Luna Ultra untuk yang butuh fleksibilitas focal length ganda.