SULAWESI TENGAH — LIV Golf, yang sejak diluncurkan pada 2021 telah menggelontorkan dana hingga $5 miliar (£3,7 miliar) dan memecah belah dunia golf, kini berada di ambang transformasi besar. Rencana restrukturisasi untuk "era baru" pada tahun depan memicu gelombang minat dari para pemainnya untuk kembali ke sirkuit tradisional, tetapi proses tersebut tidak akan berjalan mulus.
Dokumen pengadilan mengungkapkan kondisi finansial LIV Golf yang memprihatinkan. LIV tercatat memiliki utang minimal $45 juta (£33 miliar) kepada 14 pemain aktif dan mantan pemainnya. Sementara itu, estimasi aset mereka hanya berkisar antara $100 juta hingga $500 juta, berbanding terbalik dengan liabilitas yang mencapai angka $500 juta hingga $1 miliar.
Kondisi ini memaksa LIV untuk merancang format baru bernama LIV 2.0 yang "dibangun di sekitar model bisnis yang berkelanjutan". Namun, belum jelas berapa banyak pemain yang bersedia bertahan dalam format yang baru tersebut.
Juru bicara DP World Tour mengonfirmasi adanya gelombang minat yang tinggi dari para pegolf LIV untuk kembali. Pihaknya kini tengah menjajaki syarat-syarat yang memungkinkan untuk menampung mereka, dengan catatan pemain bebas dari ikatan kontrak pihak ketiga dan bersedia mematuhi regulasi keanggotaan.
"Komite turnamen kami telah menyetujui proses yang akan kami ikuti dan kami memperkirakan akan ada pertanyaan lebih lanjut dalam beberapa hari mendatang," ujar juru bicara tersebut dalam pernyataan resminya.
Preseden yang dibuat Brooks Koepka menjadi contoh nyata betapa mahalnya harga untuk kembali. Koepka yang hengkang dari LIV pada Desember 2025 harus merelakan donasi amal sebesar $5 juta, merelakan pembayaran dari skema Bonus FedExCup, dan tidak akan diikutsertakan dalam program ekuitas pemain hingga 2030. PGA Tour menyebut ini sebagai salah satu "konsekuensi finansial terbesar dalam sejarah olahraga profesional".
Di sisi lain, Patrick Reed yang tidak memenuhi kriteria program tersebut harus berjuang lebih keras. Ia harus mengamankan posisinya di PGA Tour musim depan melalui jalur 10 besar klasemen Race to Dubai di DP World Tour. Jalur inilah yang diprediksi akan menjadi rute utama bagi pegolf LIV lainnya, mengingat CEO PGA Tour, Brian Rolapp, menyatakan belum ada rencana untuk mengaktifkan kembali program khusus untuk pemain yang kembali.
LIV 2.0 direncanakan akan memangkas hadiah uang secara signifikan menjadi sekitar £7 juta per turnamen. Angka ini jauh di bawah event papan atas PGA Tour, namun masih di atas mayoritas kompetisi di DP World Tour. Mereka juga berencana menambah jumlah peserta dari 57 menjadi 75 pemain, memperkenalkan kualifikasi hari Senin, dan babak potong di tengah turnamen.
Ketidakpastian masih menyelimuti masa depan para pemain besarnya. Jon Rahm, misalnya, pekan ini hanya menyatakan kesiapannya untuk memenuhi kontrak dengan LIV 1.0, tanpa menyebut komitmen apa pun terhadap iterasi baru. Ia diperkirakan akan menjadi salah satu nama besar yang mencoba mencari jalan kembali ke PGA Tour. Pertanyaan terbesar kini adalah apakah LIV 2.0 mampu menarik talenta berkualitas untuk mendapatkan investasi yang dibutuhkan demi kelangsungan hidup mereka.