MUI Sulteng Imbau Seluruh Umat Islam Gelar Shalat Istisqa, Ini Alasan dan Jadwal Pelaksanaannya

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Kamis, 03 September 2026 | 20:42:32 WIB
MUI Sulawesi Tengah mengimbau umat Islam melaksanakan Shalat Istisqa untuk merespons kemarau panjang dan potensi bencana kebakaran di wilayah tersebut.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tengah resmi mengeluarkan imbauan kepada seluruh umat Islam di wilayah tersebut untuk melaksanakan Shalat Istisqa atau shalat minta hujan. Imbauan ini merupakan respons atas kondisi kemarau panjang, perubahan iklim, dan potensi bencana kebakaran yang diperkirakan masih akan melanda wilayah Sulteng hingga akhir Oktober 2026.

PALU — MUI Sulawesi Tengah meminta seluruh pengurus MUI kabupaten/kota, organisasi Islam, Dewan Masjid Indonesia (DMI), Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), takmir masjid, hingga umat Islam di daerah itu untuk menyelenggarakan Shalat Istisqa dan doa bersama. Imbauan tersebut tertuang dalam Surat Nomor B/25/DP-P/XXIII/IX/2026 yang ditandatangani Ketua Umum MUI Sulteng HS. Ali Muhammad Aljufri dan Sekretaris Umum Sofyan Thaha Bachmid, tertanggal 1 September 2026.

"Imbauan ini untuk pelaksanaan shalat Istisqa dan doa bersama menyikapi kondisi kemarau, perubahan iklim, serta potensi bencana kebakaran yang terjadi saat ini," kata Sekretaris Umum MUI Sulteng Sofyan Thaha Bachmid di Palu, Kamis.

Kapan Shalat Istisqa Dilaksanakan?

MUI Sulteng tidak menetapkan tanggal tunggal untuk pelaksanaan ibadah tersebut. Dalam suratnya, pelaksanaan shalat Istisqa dan doa bersama dapat dilakukan pada hari Jumat atau hari lainnya di masing-masing tempat, menyesuaikan kondisi dan kesepakatan warga setempat.

Adapun surat imbauan ini ditujukan kepada MUI kabupaten/kota se-Sulawesi Tengah serta organisasi kemasyarakatan Islam dan pengurus masjid. MUI menyebut imbauan ini merupakan tindak lanjut atas permohonan masyarakat yang merasa terdampak musim kemarau.

Risiko Kekeringan dan Karhutla Masih Tinggi hingga Oktober

Imbauan ini sejalan dengan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Hampir seluruh wilayah Sulawesi Tengah diprediksi tidak mengalami curah hujan yang berarti hingga September 2026.

Memasuki Oktober 2026, cuaca panas dan kondisi kering masih berpeluang tinggi terjadi, terutama di wilayah Sulawesi Tengah bagian timur. Suhu udara di sejumlah daerah seperti Kota Palu bahkan diprakirakan tetap tinggi sampai akhir Oktober.

BMKG baru memproyeksikan sebagian besar wilayah Sulawesi Tengah mulai keluar dari zona risiko kekeringan ekstrem pada November 2026. Saat itu, peluang curah hujan rendah diprediksi bergeser ke arah Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Ikhtiar Spiritual di Tengah Ancaman Bencana

Pelaksanaan Shalat Istisqa diharapkan menjadi ikhtiar bersama umat dalam memohon pertolongan kepada Allah SWT di tengah kondisi kemarau dan dampak yang ditimbulkannya. Selain itu, imbauan ini juga menjadi pengingat akan potensi bencana kebakaran yang kerap menyertai musim kering.

Masyarakat diminta untuk lebih bijak dalam menghemat penggunaan air bersih dan menjaga kesehatan di tengah suhu terik yang melanda. Kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga menjadi perhatian utama dalam surat edaran tersebut.

Dengan adanya imbauan ini, MUI Sulteng berharap seluruh elemen masyarakat tidak hanya mengandalkan upaya fisik, tetapi juga memperkuat dimensi spiritual dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang tengah berlangsung.

Reporter: Mahfud Ridwan
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top