SULAWESI TENGAH — Pengalaman menguji kacamata pintar seringkali berakhir dengan dua reaksi ekstrem: merasa jadi karakter film fiksi ilmiah, atau kesal karena stigma sosial dan masalah privasi. Setelah sebulan penuh memakai Rokid AI + AR Glasses sebagai kacamata utama, saya jatuh ke tengah-tengah. Produk ini menyodorkan pengalaman yang menyenangkan, tapi beberapa kelemahan penting tetap sulit diabaikan.
Bobotnya cuma 49 gram, jadi hampir tidak terasa bedanya dengan kacamata biasa. Sebagai pengguna kacamata minus harian, saya memesan varian dengan lensa resep yang dipasang magnetis di dalam frame. Sistemnya rapi dan mudah dilepas, meski posisi lensa magnet ini membuat frame terasa sedikit lebih tebal dari kacamata standar.
Namun, desain ini tetap membawa kompromi. Titik tumpu di hidung dan pelipis tidak bisa diatur seluas kacamata premium, sehingga untuk kepala yang lebih lebar atau sempit dari rata-rata, kenyamanan bisa berkurang setelah dipakai lebih dari dua jam. Tidak ada fitur pengatur sudut lensa yang fleksibel seperti di kacamata AR kelas atas lainnya.
Klaim terbesar Rokid ada pada dua layar micro-LED yang memproyeksikan teks hijau di depan mata. Awalnya saya pikir ini sekadar trik pemasaran, tapi setelah memakai selama sebulan, justru fitur inilah yang paling sering saya gunakan setiap hari.
Sinkronisasi dengan Google Maps berjalan mulus. Saat berjalan kaki atau bersepeda, arah belokan muncul sebagai panah mini di tepi pandangan, lengkap dengan perkiraan waktu tiba. Saya tidak perlu lagi membuka ponsel setiap 500 meter. Satu-satunya risiko adalah keasyikan dan menabrak pejalan kaki lain — sempat terjadi satu kali di minggu kedua. Perlu latihan untuk tetap fokus pada lingkungan sekitar, bukan pada teks yang melayang.
Fitur teleprompter juga bekerja sesuai janji. Tempel teks di aplikasi Hi Rokid, atur kecepatan gulir, dan naskah akan berjalan di depan mata saat presentasi. Untuk terjemahan langsung 89 bahasa, akurasi transkripsi sangat bergantung pada kejelasan suara lawan bicara. Di lingkungan bising, subtitle sering tertinggal atau salah menangkap kata. Cocok untuk percakapan pelan, tapi jangan harap akurat di kafe ramai.
Satu lensa 12MP tertanam di sudut kiri atas bingkai. Hasil foto dan video cenderung miring ke kiri, dan framing-nya perlu beberapa kali percobaan agar subjek berada di tengah. Ini wajar untuk kamera yang menempel di kepala, tapi Meta Ray-Ban yang dibanderol sekitar AU$469 (Rp5 jutaan) menghasilkan kualitas gambar lebih tajam dan stabil untuk kategori produk yang sama.
Video tertinggi di 1680p, yang terlihat lebar tapi detailnya tidak sebanding dengan kamera ponsel kelas menengah saat ini. Hampir semua foto yang saya ambil dalam kondisi cukup cahaya terlihat kurang tajam saat diperbesar, dan saat cahaya redup hasilnya lebih buruk lagi. Siapapun yang berharap kamera menjadi alasan utama membeli kacamata ini sebaiknya mengurungkan niat. Ambil ponsel biasa saja, hasilnya pasti lebih baik.
Sebelum mulai menggunakan, saya membaca T&C aplikasi Hi Rokid sampai habis. Beberapa hal penting muncul di sana. Pertama, akun hanya bisa dibuat oleh pengguna minimal 18 tahun dan produk tidak ditujukan untuk anak-anak. Kedua, Rokid mengumpulkan data lokasi dan konten suara saat perangkat dipakai. Artinya, setiap perintah suara dan interaksi dengan asisten AI disimpan di server mereka.
Sisi baiknya, kebijakan itu tidak menyebut penggunaan data untuk pelatihan model AI seperti yang sempat menjadi masalah pada beberapa produk Meta. Tapi kita juga tidak bisa memastikan data tidak akan berpindah fungsi di masa depan. Pengguna yang khawatir dapat mengirim email ke perusahaan untuk meminta penghapusan data atau sekadar menghapus akun langsung dari aplikasi.
Di tengah era AI yang haus data, pendekatan Rokid masih satu tingkat lebih transparan dibanding banyak kompetitor di segmen ini. Namun tetap ada selimut ketidakjelasan soal berapa lama data disimpan — policy hanya menyebut sesuai kebutuhan bisnis.
Setelah 30 hari penggunaan, saya tidak bisa menyebut Rokid AI + AR Glasses sebagai produk gagal. Justru layar micro-LED yang tadinya saya ragukan berubah menjadi fitur yang paling sering dipakai. Mengetahui arah belokan, mengecek cuaca, dan membaca teks présentation tanpa membuka ponsel adalah pengalaman yang terasa alami, bahkan menyenangkan.
Tapi perlu ditegaskan: jangan beli produk ini untuk kameranya. Kualitas foto dan video tidak sebanding dengan harga AU$999, yang jika dikonversi sekitar Rp10,5 juta dan masih harus menambah biaya lensa resep jika dibutuhkan. Untuk pengguna yang beraktivitas di kota dengan mobilitas tinggi dan membutuhkan asisten visual handsfree, produk ini layak dipertimbangkan. Untuk kamu yang ingin mengabadikan momen tanpa mengeluarkan ponsel dari saku, pilihan Meta atau kamera aksi masih jauh lebih rasional.