PALU — Program Palu Mantap Pangan yang digagas Pemkot Palu kini masuk tahap evaluasi menyusul perbedaan luas lahan produktif di tiap kelurahan. Dua kecamatan yang menjadi lokasi awal evaluasi adalah Mantikulore dan Palu Selatan, dan akan berlanjut ke seluruh kecamatan hingga Palu Utara dan Tawaeli.
Wali Kota Hadianto Rasyid menegaskan bahwa keterbatasan lahan tidak boleh menjadi hambatan untuk memenuhi target program. Seluruh potensi lahan yang tersedia tetap harus dimanfaatkan secara maksimal.
“Tentunya paling tidak seluruh potensi yang ada dimanfaatkan dan kita tetap berupaya mencapai target satu hektare secara akumulatif meskipun setiap kelurahan memiliki luas lahan produktif yang berbeda-beda,” kata Hadianto saat memimpin rapat di Palu, Selasa.
Artinya, lahan sempit di satu kelurahan bisa digabung dengan lahan di kelurahan lain untuk memenuhi angka kolektif. Dengan begitu, kontribusi masing-masing wilayah tetap dihitung dan diakui dalam capaian program.
Selain target luas lahan, program ini juga memusatkan perhatian pada lima komoditas unggulan yang ditetapkan Pemkot Palu untuk memperkuat ketahanan pangan masyarakat. Komoditas tersebut ditanam di lahan produktif yang tersedia di tingkat kelurahan.
Perbedaan luas lahan antarwilayah disebut tidak menjadi kendala selama ada perkembangan penanaman yang signifikan. Pemerintah kota meminta agar setiap kelurahan melaporkan progres penanaman secara rutin.
Untuk kelurahan yang lahannya terbatas, Pemkot Palu mendorong penggunaan teknologi pertanian hidroponik. Langkah ini dinilai efektif untuk tetap berkontribusi pada program tanpa memerlukan lahan luas.
“Ke depan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan berencana melakukan pembangunan warehouse hidroponik di Kelurahan Layana pada tahun 2027 mendatang,” ujarnya.
Jika konsep warehouse hidroponik di Layana terbukti berhasil, Pemkot berencana mengembangkannya dalam bentuk hydroponic house yang lebih sederhana di kelurahan lain yang memiliki keterbatasan lahan.
“Kalau konsep ini berhasil, ke depan kita dapat mengembangkan hydroponic house yang lebih sederhana di wilayah-wilayah dengan keterbatasan lahan,” pungkas Hadianto.