Petani Morowali Masih Menunggu Keberpihakan di Tengah Gemerlap Industri, SPI Minta Data Realisasi Program Dibuka

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 16:16:02 WIB
Petani menerima bantuan benih padi unggul bersertifikat dari Bupati Morowali di Desa Lembo Makmur, Kecamatan Bumi Raya, 14 Juli 2026.

MOROWALI — Pertumbuhan industri pengolahan nikel yang pesat di Kabupaten Morowali tidak otomatis berbanding lurus dengan kesejahteraan petani. Serikat Petani Indonesia (SPI) Cabang Morowali menilai pemerintah daerah masih belum optimal dalam menerjemahkan anggaran menjadi program yang berdampak langsung pada peningkatan produktivitas pertanian.

Desakan evaluasi terbuka disampaikan SPI menyusul adanya bantuan benih padi unggul bersertifikat yang diserahkan Bupati Morowali kepada petani di Desa Lembo Makmur, Kecamatan Bumi Raya pada 14 Juli 2026. Pemerintah menyebut program itu sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan, namun SPI menilai program tanpa data terukur hanyalah seremoni.

Data yang Diminta: Penerima, Luas Lahan, dan Anggaran

SPI meminta pemerintah daerah membuka data komprehensif produksi pertanian tahun 2025 yang bersumber dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Daerah. Publik dan organisasi petani ingin melihat perkembangan produktivitas setiap komoditas dan wilayah secara riil.

“Kalau pemerintah mengatakan ada program untuk meningkatkan produktivitas pertanian, kami ingin melihat datanya. Berapa petani yang menerima manfaat, berapa luas lahan yang mendapatkan intervensi, berapa anggarannya dan apa hasilnya. Jangan hanya berhenti pada seremoni penyerahan bantuan,” tegas Zulfikar, Kepala Divisi Advokasi dan Badan Aksi Tani Indonesia Cabang Morowali, Sabtu (29/08/2026).

SiLPA Besar, Kebutuhan Dasar Petani Belum Tuntas

SPI menyoroti besarnya Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SiLPA) yang dinilai mencerminkan lemahnya kualitas perencanaan dan pelaksanaan APBD. Organisasi petani ini memahami SiLPA tidak bisa langsung dibagikan ke sektor pertanian, namun tetap relevan dipertanyakan publik.

“Kalau kebutuhan dasar masyarakat masih banyak yang belum selesai, pemerintah harus menjelaskan mengapa anggaran yang sudah direncanakan belum seluruhnya mampu diterjemahkan menjadi pembangunan yang dirasakan rakyat,” kata pernyataan SPI.

Jalan Usaha Tani dan Akses Pupuk Jadi Prioritas

Menurut SPI, persoalan mendasar petani Morowali bukan hanya soal benih. Jalan usaha tani yang rusak membuat biaya produksi membengkak karena petani kesulitan membawa pupuk ke lahan dan mengangkut hasil panen keluar. Ketersediaan pupuk, sarana produksi, teknologi, pendampingan, hingga akses pasar juga menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Zulfikar menegaskan pihaknya tidak mempertentangkan industri dengan pertanian. “Industri boleh tumbuh dan investasi boleh berkembang. Tetapi pertumbuhan industri tidak boleh membuat pemerintah lupa bahwa ada petani yang membutuhkan jalan menuju lahannya, pupuk, benih, sarana produksi dan kepastian pasar,” ujarnya.

Langkah yang Diminta Pemerintah Daerah

SPI mendorong pemerintah kabupaten melakukan evaluasi terbuka terhadap kebijakan sektor pertanian. Beberapa permintaan konkret disampaikan organisasi ini kepada Pemkab Morowali:

  • Membuka data realisasi program pertanian 2025 dan 2026, termasuk jumlah penerima, luas lahan, dan besaran anggaran.
  • Mempublikasikan data produksi pertanian 2025 secara lebih komprehensif per komoditas dan wilayah.
  • Memprioritaskan pembangunan dan perbaikan jalan usaha tani berdasarkan kebutuhan riil petani di lapangan.
  • Memastikan akses petani terhadap pupuk, benih, alat dan mesin pertanian, serta sarana produksi lainnya.
Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: rakyatbersuara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top