PALU — Ancaman karhutla di Sulawesi Tengah mencapai titik tertinggi dalam tujuh tahun terakhir. Data SiPongi Kementerian Kehutanan yang merujuk pantauan satelit Terra/Aqua NASA mencatat 1.007 titik panas selama periode 1 Januari hingga 15 Juni 2026, melonjak drastis dibandingkan 330 titik pada periode yang sama di 2025.
Luas lahan terbakar sepanjang semester pertama 2026 mencapai 4.147 hektare, menjadikannya catatan terparah sejak 2019. Angka tersebut sekaligus menempatkan Sulawesi Tengah dalam daftar 10 besar provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak di Indonesia.
Kabupaten Tojo Unauna menjadi wilayah dengan dampak terparah. Kebakaran hebat melanda kawasan Gunung Kalendang, Desa Balinggara, pada 17 Agustus 2026, menghanguskan sekitar 20 hektare lahan. Peristiwa ini merupakan kejadian berulang setelah insiden serupa terjadi di lokasi yang sama pada akhir Juli 2026.
Merespons eskalasi tersebut, Bupati Tojo Unauna menerbitkan Surat Keputusan Nomor 100.3.3.2/20/BPBD/2026 tertanggal 19 Agustus 2026 mengenai penetapan status Siaga Darurat Bencana Karhutla. Data NASA FIRMS mengonfirmasi sebaran titik api juga meluas ke Morowali, Banggai, Poso, Banggai Kepulauan, Buol, dan Tolitoli.
Kondisi darurat ini memicu enam organisasi masyarakat sipil—Karsa Institute, IMUNITAS, KOMIU, Libu Perempuan, Perkumpulan Evergreen Indonesia, dan ROA—merilis pernyataan sikap bersama di Kota Palu, Sabtu (22/8).
Direktur Eksekutif Karsa Institute, Rahmat Saleh, memperingatkan fenomena El Nino 2026 berisiko memicu karhutla terbesar dalam satu dekade terakhir di Sulawesi Tengah. "Kami mendesak pemerintah daerah segera mengaktifkan posko terpadu tanggap darurat di tingkat kabupaten hingga kecamatan," tegas Rahmat.
Koalisi berharap langkah strategis segera diimplementasikan untuk mencegah kerusakan lingkungan lebih luas serta melindungi ruang hidup masyarakat dari ancaman kabut asap dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Di tingkat nasional, Presiden Prabowo Subianto meminta penguatan edukasi pencegahan karhutla di Kalimantan dan menyiapkan bantuan alat berat untuk pembukaan lahan tanpa bakar. Kebijakan itu menyusul dampak kabut asap yang menurunkan kualitas udara di Pelalawan hingga kategori tidak sehat.
Penanganan karhutla juga diperkuat dengan penambahan helikopter water bombing, peralatan, dan personel di wilayah terdampak. Kementerian Kehutanan menyiapkan 45 personel tambahan Manggala Agni dari Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan Selatan untuk membantu daerah yang membutuhkan penanganan lebih intensif.
Sementara itu, Otorita IKN bersama TNI AU dan BMKG menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menyemai 800 kg garam untuk mengatasi kekeringan dan mengisi cadangan air.