SIGI — Warga huntap Desa Bangga masih harus berjuang mendapatkan air bersih meskipun sumur dalam telah dibangun enam bulan terakhir. Kepala Desa Bangga, Abrar Ganasatu, mengungkapkan debit air yang dihasilkan belum mencukupi kebutuhan sehari-hari sehingga banyak warga terpaksa turun ke Sungai Miu di Dusun III untuk mengambil air.
“Air bersih Huntap Bangga masih kurang. Banyak warga harus turun ke bawah mengambil air dari Sungai Miu di Dusun III. Sumur dalam sudah dikerjakan, tapi airnya belum mencukupi,” kata Abrar kepada Longki yang hadir dalam reses tersebut.
Selain air, persoalan sertifikat hunian tetap juga menjadi sorotan. Anggota DPRD Sigi Fraksi Gerindra, Fadlin Yabi, menyebutkan sebanyak 99 KK penghuni huntap belum memperoleh sertifikat karena proses penyerahan lahan dari pemerintah daerah ke pemerintah desa belum rampung.
“Masalah ini sudah kami sampaikan ke ATR/BPN. Kami juga menyampaikan langsung kepada Pak Longki agar bisa diperjuangkan di tingkat pusat,” ujar Fadlin.
Pemerintah desa sebelumnya telah mengajukan permohonan penyelesaian sertifikat kepada Pemkab Sigi, namun prosesnya belum tuntas. Abrar juga menyoroti fasilitas olahraga di kawasan huntap yang masih belum layak karena terdapat paku-paku beton yang tertancap di lapangan.
Mantan Gubernur Sulawesi Tengah dua periode itu menyampaikan permohonan maaf karena datang sedikit terlambat. Longki mengaku sebelumnya singgah untuk berziarah ke makam leluhurnya, Madika Bangga atau Pue Bongo, yang dimakamkan di desa tersebut.
“Saya datang ke sini untuk mendengar aspirasi, curhatan, dan keluhan masyarakat. Yang bisa saya tangani langsung akan saya upayakan, sedangkan yang menjadi kewenangan pemerintah daerah akan saya sampaikan kepada Bupati Sigi, Rizal Intje Nai,” tegas Longki.
Dalam dialog, perwakilan Karang Taruna, Asmaul Hasanatan, meminta perhatian serius terhadap pembinaan generasi muda. Ia menyoroti masih adanya anak SD yang belum lancar membaca, ancaman penyalahgunaan narkotika, serta pentingnya pendidikan karakter melalui seni, olahraga, dan pelatihan.
Sementara itu, Kepala SMP Negeri 21 Sigi yang juga Ketua PKK Desa Bangga, Fadliah, mengeluhkan keterbatasan air bersih dan fasilitas belajar. Jumlah siswa di sekolahnya melonjak drastis dari 37 menjadi 91 orang, namun mereka masih kekurangan mebel sehingga satu kelas terpaksa belajar secara lesehan.
“Kami hanya mengandalkan satu tandon air seharga Rp50 ribu yang habis dalam dua hari. Usulan ke pemerintah kabupaten sudah disampaikan, tapi belum terealisasi,” tuturnya. Longki pun meminta pihak sekolah segera mengajukan proposal resmi untuk ditindaklanjuti ke Pemkab Sigi melalui bagian perlengkapan.
Imam Huntap Dusun I RT 5, Aruji, meminta bantuan sekitar 2.500 buah nako dan 3.000 batako untuk memperbaiki masjid yang bocor saat hujan. “Kalau hujan, air masuk semua ke dalam masjid,” katanya. Longki merespons dengan meminta pengurus masjid segera membuat proposal.
Ketua BPD Bangga, Moh. Ikbal, turut meminta bantuan pembangunan tempat pemandian jenazah serta peningkatan jalan desa yang telah diusulkan sejak 2018. Longki menyatakan akan segera membantu menindaklanjuti usulan tersebut.