Jerman Targetkan Laser Anti-Drone 100 kW untuk Angkatan Laut pada 2029, Biaya per Tembakan Cuma Rp16.000

Penulis: Mahfud Ridwan  •  Rabu, 15 Juli 2026 | 04:13:31 WIB
Rheinmetall dan MBDA menandatangani kontrak pembangunan sistem laser 100 kW untuk kapal perang Angkatan Laut Jerman pada 2026.

SULAWESI TENGAH — Jerman memastikan akan menempatkan sistem laser berenergi tinggi di kapal perang Angkatan Laut pada 2029. Kontraktor pertahanan Rheinmetall dan MBDA telah menandatangani kontrak senilai beberapa ratus juta euro pada Juni 2026 untuk membangun sistem tersebut dari tahap purwarupa menjadi senjata siap tempur.

Kepastian ini muncul setelah uji coba ekstensif selama lebih dari setahun di fregat Sachsen. Demonstrator yang digunakan saat ini memiliki daya sekitar 20 kilowatt — cukup untuk melumpuhkan drone kecil dan target permukaan ringan di dekat kapal. Kapal tersebut menempuh 28.000 mil laut antara Laut Baltik dan Laut Mediterania selama masa pengujian.

Dari 20 kW ke 100 kW: Target Rudal Supersonik

Versi produksi nantinya akan ditingkatkan dayanya hingga lebih dari 100 kilowatt. Peningkatan daya ini memungkinkan sistem mengenai target udara yang lebih besar dan lebih cepat, termasuk rudal jelajah supersonik yang melaju di atas 1.000 mph. Selama uji coba, lebih dari 100 tembakan langsung dilakukan dalam kondisi maritim nyata untuk menguji akurasi pelacakan, kecepatan reaksi, dan performa intersepsi.

“Sistem senjata laser akan memberikan perlindungan yang jauh lebih tinggi bagi personel yang bertugas di kapal angkatan laut, terutama dalam menghadapi drone,” ujar Roman Koehne, kepala divisi senjata dan amunisi Rheinmetall, dalam pernyataan resmi.

Selain drone, para insinyur menargetkan sistem ini mampu mencegat rudal berpemandu, roket, hingga peluru artileri yang ditembakkan dari jarak jauh. Perusahaan juga mengklaim sistem telah menunjukkan kemampuan mengenai target dengan latar langit terbuka, bukan hanya yang berada di depan daratan padat.

Biaya per Tembakan Hanya Rp16.000, Tapi Harga Sistem Masih Misteri

Salah satu daya tarik utama senjata laser adalah biaya operasionalnya yang rendah. Setiap tembakan diperkirakan hanya menghabiskan biaya sekitar USD 1 (sekitar Rp16.000) — kontras dengan rudal permukaan-ke-udara yang bisa memakan biaya ratusan ribu hingga jutaan dolar per unit.

Namun, Rheinmetdam dan MBDA belum mengungkapkan harga akhir per unit sistem. Thomas Gottschild, direktur pelaksana MBDA Deutschland, hanya menyebut sistem yang dikemas dalam kontainer ini sebagai opsi terjangkau untuk menjaga pelabuhan dan fasilitas penting lainnya.

Skalabilitas daya dari 20 kW menjadi lebih dari 100 kW menghadirkan tantangan teknis signifikan, terutama dalam hal manajemen termal dan pasokan listrik di ruang terbatas kapal. Meski begitu, para pejabat yakin kapal angkatan laut memiliki kapasitas listrik, pendinginan, sensor, dan ruang yang memadai untuk sistem laser yang menuntut daya besar ini.

Perlombaan Senjata Laser Eropa: Inggris dan Belgia Juga Bergerak

Jerman bukan satu-satunya negara Eropa yang serius mengembangkan senjata energi terarah. Inggris melalui Angkatan Laut Kerajaan berencana memasang sistem laser DragonFire di kapal perusak pada 2027. Belgia telah mengalokasikan €3,1 miliar untuk pertahanan udara berlapis yang mencakup sistem Skyranger 30, radar GM200, dan 10 baterai NASAMS. Prancis juga dilaporkan mengejar sistem serupa.

Kedua perusahaan menyebut tingkat kesiapan teknologi sistem saat ini sudah sangat tinggi, merujuk pada uji coba berkelanjutan di kapal selama lebih dari setahun dalam kondisi nyata. Meski demikian, pejabat pengadaan belum menetapkan pencapaian antara (milestone) yang jelas, sehingga masih sulit menilai apakah target 2029 benar-benar realistis.

Uji coba lebih lanjut masih diperlukan sebelum produksi massal. Namun pencapaian terbaru menunjukkan bahwa angkatan laut Eropa kini melihat senjata energi terarah sebagai pelengkap praktis untuk rudal dan meriam yang sudah ada. Untuk pasar Indonesia, teknologi ini masih jauh dari realitas, tapi tren biaya per tembakan yang sangat rendah bisa menjadi preseden menarik bagi industri pertahanan global ke depan.

Reporter: Mahfud Ridwan
Sumber: techradar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top