SULAWESI TENGAH — Google NotebookLM perlahan menjelma jadi aplikasi yang menarik perhatian, terutama bagi mereka yang ingin mengonsumsi informasi dalam format audio. Bukan karena kemampuannya merangkum catatan, melainkan fitur Audio Overviews yang bisa mengubah teks menjadi podcast dengan dua host AI.
Jiwon Yoon, Ph.D., penulis dan mantan profesor asal Korea Selatan, menjadi contoh nyata penggunaan fitur ini. Ia memiliki Substack bernama 'Understanding Korea, One Story at a Time' yang membahas sejarah dan budaya Korea. Setiap artikelnya melalui riset panjang, menyisakan banyak catatan yang tidak masuk ke tulisan.
Alih-alih membiarkan catatan itu menganggur, Jiwon memasukkannya ke NotebookLM dan mengaktifkan Audio Overviews. Hasilnya: sebuah episode podcast langsung jadi, lengkap dengan dua host AI yang membahas isi catatan tersebut. Ia bahkan mencantumkan metode ini di deskripsi episodenya.
Cara kerja NotebookLM cukup sederhana. Pengguna cukup mengunggah dokumen, catatan, atau artikel ke aplikasi. Fitur Audio Overviews kemudian membaca seluruh materi dan menghasilkan dialog antara dua host virtual.
Kedua host ini dirancang untuk saling berinteraksi, mengajukan pertanyaan, dan mengomentari fakta-fakta menarik dari sumber yang diberikan. Yang membedakan NotebookLM dari generator konten AI lain adalah ketergantungannya pada sumber material. Google mengklaim Audio Overviews hanya merujuk pada teks yang dimasukkan pengguna. Risiko halusinasi atau referensi ngawur pun lebih kecil. Dalam kasus Jiwon, sumbernya adalah catatan dari warga asli Korea yang paham budayanya.
Bagi yang pernah mencoba Audio Overviews, kualitas host AI NotebookLM terbilang mengejutkan. Mereka mampu membangun dinamika layaknya pembawa acara sungguhan—bergantian bicara, saling menimpali, dan memberi kredit pada penulis asli. Google jelas mempelajari pola interaksi podcast populer dan menerapkannya di sini.
Namun, kekurangan tetap ada. Kadang host mengucapkan kalimat yang janggal atau tidak sesuai konteks. Pola struktur percakapan juga kadang terasa repetitif, mirip gaya penulisan AI pada umumnya. Meski begitu, untuk podcast yang sepenuhnya dihasilkan mesin, hasilnya jauh di atas ekspektasi.
Jujur, podcast dengan host manusia tetap lebih unggul. Hubungan personal antara pendengar dan pembawa acara adalah sesuatu yang belum bisa ditiru AI. Podcast seperti The Rest is History, misalnya, tetap lebih nikmat didengar versi manusianya.
Tapi kenyataannya, banyak podcast berkualitas rendah di luar sana. Banyak yang membuang 12 menit pertama hanya untuk obrolan ringan akhir pekan host-nya. NotebookLM, setidaknya, langsung ke inti pembahasan. Bukan berarti ini kabar baik bagi industri podcast secara keseluruhan, tapi bagi pendengar yang ingin belajar efisien, opsi ini layak dipertimbangkan.